• Kepala Negara Asia Sampai Turki Ucapkan Selamat Buat Jokowi, Prabowo Sibuk Deklarasi

    Kepala Negara Asia Sampai Turki Ucapkan Selamat Buat Jokowi, Prabowo Sibuk Deklarasi

    Beritahati.com, Jakarta - Pemimpin dunia satu persatu mulai menelepon Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas keberhasilannya menyelenggarakan Pemilu Serentak 2019, serta dalam quick count sementara ini sudah menapaki tangga menuju kepemimpinan untuk yang kedua kalinya.

    Hari ini, tercatat sudah 3 (tiga) kepala negara dunia mengucapkan selamat kepada Jokowi, dari Mahathir Mohamad (PM Malaysia), Lee Hsien Loong (PM Singapura), serta yang ditunggu rakyat Indonesia, pastinya, Racep Tayyip Erdogan (Presiden Turki).

    "Dan juga beberapa negara lainnya, yang telah memberikan ucapan selamat atas terselenggaranya pesta demokrasi besar di Indonesia," terang Presiden Jokowi di Jakarta, seperti dilansir viva, Kamis (18/4/2019).

    Jokowi juga mengungkapkan, banyak sekali negara kagum atas keberhasilan gelaran Pemilu di Indonesia. Apalagi pemungutan suara dilakukan di 800 ribuan tempat dengan partisipasi pemilih untuk 2019 ini hingga 81 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia.

    "Para kepala negara mengucapkan selamat juga kepada Pak Ma'ruf Amin atas keberhasilan di Pemilu 2019 ini," pungkasnya.

    Keadaan ini bertolak belakang dengan pasangan capres lainnya, yang sudah 3 (tiga) kali mendeklarasikan diri sebagai pemenang Pemilu walau hasil quick count lembaga survei resmi mengeluarkan hasil berbeda, serta KPU belum merilis hasil resmi nasional. Alasan capres tersebut adalah, menurut hitungan internal pihaknya sendiri, dia adalah pemenang Pemilihan Presiden Indonesia 2019.

    Tapi apapun yang dikatakan capres tersebut, dia yang sujud syukur dan deklarasi, tapi Joko Widodo yang tak bereaksi apa-apa, justru yang mendapatkan telepon ucapan selamat dari kepala-kepala negara dunia.

  • Video : TNI-Polri Siap Hantam Pengganggu Keamanan Perusak Demokrasi

    Video : TNI-Polri Siap Hantam Pengganggu Keamanan Perusak Demokrasi

    Beritahati.com, Jakarta - Usai pencoblosan pada Rabu, 17 April 2019, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, didampingi Kapolri Jenderal Polisio Tito Karnavian, merilis pernyataan resmi mengenai Pemilu 2019, di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2019).

    Panglima TNI menyampaikan, pihaknya bersama Polri, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh prajurit TNI-Polri dan semua pihak, serta masyarakat Indonesia.

    "Sehingga pelaksanaan pemungutan suara 17 April 2019 dapat berjalan aman, damai dan lancar," ucap Panglima TNI.

    Selanjutnya, menurut Hadi, TNI-Polri meningkatkan kewaspadaan ke level berikutnya, yakni menjaga stabilitas keamanan di tahapan-tahapan selanjutnya.

    "Kami tidak akan mentolerir dan (akan) menindak tegas semua upaya yang (akan) mengganggu ketertiban masyarakat serta aksi-aksi inkonstitusional yang merusak proses demokrasi. NKRI Harga Mati!" tegas Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

    Video : Istimewa

  • Suara Partai Demokrat Melorot, Wasekjen Tuding Politik Identitas BPN Penyebabnya

    Suara Partai Demokrat Melorot, Wasekjen Tuding Politik Identitas BPN Penyebabnya

    Beritahati.com, Jakarta - Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Partai Demokrat Indonesia, Andi Arief menyatakan, pihaknya seolah menjadi korban politik identitas yang dimainkan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Apa pasal?

    Menurut Andi, banyak suara dari pemilih nonmuslim di sejumlah provinsi lari memilih partai lain.

    Terlepas sedikit dari pernyataan Andi Arief, pendukung pasangan Prabowo-Sandi memang terdiri dari banyak kelompok, termasuk kelompok dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang sudah dibubarkan pemerintah Jokowi, namun kini mendompleng di kubu Prabowo-Sandi dengan terus mengusung ideologi khilafah untuk menggantikan Pancasila dan NKRI secara perlahan jika memang Prabowo menang Pilpres. Itu keinginan dan maksud mereka hingga menjadikan pasangan Prabowo-Sandi tumpangan politik.

    Namun tanpa disadari, dari semua koalisi, ada satu-satunya partai yang nasionalis dan setia kepada Pancasila dan NKRI, yakni Partai Demokrat. Sehingga, dengan kampanye-kampanye khilafah menggantikan Pancasila dan NKRI yang digaungkan pendukung Prabowo dari gerombolan HTI maupun Partai Keadilan Sejahtera (PKS), akhirnya menggerus suara Partai Demokrat, khususnya pendukung dari nonmuslim. Kejadian nyata adalah hasil Pilpres 2019 Bali, dimana Jokowi mengubur Prabowo dengan 90 persen suara (hasil quick count).

    Dari hasil Pilpres di Bali, ketakutan pasti ada bakal berimbas di perolehan suara legislatif Partai Demokrat Indonesia.

    Menurut Andi, merujuk dari hasil quick count sejumlah lembaga survei, perolehan suara Demokrat secara nasional berkisar di angka 8 persen. Sedangkan Demokrat sendiri mematok angka perolehan suara 11 persen nasional. Artinya cukup jauh tak tercapai targetnya. Dan salah satu akar permasalahannya adalah, politik identitas yang dimainkan BPN. Begitu menurut Andi Arief. Sebelumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sempat menyinggung bahwa politik identitas beredar kencang sebelum pencoblosan 17 April 2019.

    "Partai Demokrat merasa jadi korban politik identitas. Suara nonmuslim di Papua, Bali, Sumatra Utara, dan NTT, migrasi (berpindah)," tutur Andi seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (18/4/2019).

    Akan tetapi Andi mengingatkan, apa yang diungkapkannya ini bukan menyiratkan penyesalan Demokrat Indonesia berkoalisi untuk Prabowo-Sandi, akan tetapi lebih kepada soal siasat politik yang dimainkan BPN, yakni politik identitas itu tadi. Dampaknya, menurut Andi, bukan hanya dirasakan Demokrat Indonesia, akan tetapi, suara Prabowo dalam Pilpres juga terganggu.

    "Bukan hanya Demokrat yang jadi korban isu identitas, tetapi Gerindra juga enggak sadar kehilangan suara dari coat-tail effect," tutur Andi.

    Pihak BPN Prabowo-Sandi sendiri belum menanggapi pernyataan Andi.

    Sebelumnya sudah diumumkan, bahwa berdasarkan hasil quick count Litbang Kompas, dengan jumlah suara yang masuk mencapai 87 persen, menyatakan bahwa Partai Demokrat meraih 8,03 persen suara atau berada di peringkat tujuh.

    Hasil quick count Indo Barometer, dengan jumlah suara yang masuk mencapai 91,58 persen, menunjukkan bahwa Partai Demokrat ada di peringkat ketujuh dengan capaian 7,63 persen suara.

    Senada, hasil quick count LSI Denny JA menunjukkan Demokrat ada di rengking ketujuh dengan capaian suara 6,80 persen.

  • Akibat Hinaan Tampang Boyolali, Rakyat di 25 TPS Tak Beri Satupun Suara Buat Prabowo

    Akibat Hinaan Tampang Boyolali, Rakyat di 25 TPS Tak Beri Satupun Suara Buat Prabowo

    Beritahati.com, Boyolali - Hasil penghitungan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) seluruh Indonesia terpantau lancar. Namun ada sesuatu yang terjadi di Boyolali, dan jika dicermati, apa yang terjadi saat pencoblosan, merupakan refleksi dari perbuatan jauh hari sebelumnya.

    Sejumlah TPS, tak tanggung-tanggung, sebanyak 25 TPS di Boyolali, Jawa Tengah, warga yang datang mencoblos tak satupun memberikan suara kepada pasangan capres dan cawapres nomor urut 02, yakni Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

    Artinya, dari 25 TPS itu, masing-masing mencatatkan 100 persen suara untuk pasangan capres dan cawapres nomor urut 01, Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin (Jokowi-Amin), Rabu (17/4/2019).

    Diduga, warga berduyun-duyun mencoblos Jokowi, karena omongan Prabowo saat masa kampanye dan sosialisasi, yang menyudutkan orang Boyolali lewat sebutan 'tampang-tampang boyolali'.

    Contohnya, TPS 02 Dukung Pongangan, Desa Jeruk, Kecamatan Selo. mencatatkan, Jokowi-Amin 270 suara, dan Prabowo-Sandi nihil. Demikian pula TPS 01 Desa Jeruk, rakyat memberikan suara 180 untuk Jokowi-Amin dan nihil untuk Prabowo-Sandi.

    “Ini luar biasa, tapi kita tetap tunggu hasil akhirnya. Luar biasa ini, saya apresiasi hasilnya,” kata Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Boyolali, Seno Samodro.

    Kumparan melansir, menurut data yang didapat dari Panti Marhein Boyolali, setidaknya, ada 25 dari 106 TPS dengan hasil perolehan suara mutlak untuk Jokowi-Ma’ruf. Dimana semua TPS tersebar di Kecamatan berbeda.

    8 TPS di Desa Bengkle, Kecamatan Wonosegoro;

    1 TPS di Desa Kacangan, Kecamatan Andong;

    1 TPS di Kecamatan Kemusu;

    6 TPS di Kecamatan Selo;

    5 TPS di Kecamatan Musuk;

    3 TPS di Kecamatan Ampel;

    1 TPS di Kecamatan Cepogo.

    Akhirnya, dari data yang sudah masuk, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin berhasil mendapatkan 86 persen suara keseluruhan.

    “Kemungkinan 86 persen ini tertinggi di Jawa. Karena rata-rata itu 77 persen. Kita syukuri atas hasilnya ini (menang mutlak di 25 TPS di Boyolali),” pungkas Seno.

Galeri