• Belajar di Rumah, Kak Seto: Orang tua Harus Bisa Menemukan Kecerdasan Anak

    Belajar di Rumah, Kak Seto: Orang tua Harus Bisa Menemukan Kecerdasan Anak

    Beritahati, Jakarta - Psikolog anak Seto Mulyadi menghimbau agar orang tua bisa menciptakan suasana belajar yang gembira dan menyenangkan bagi anak saat pandemi COVID-19 agar anak tidak cepat merasa bosan.

    Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia itu mengatakan dunia anak adalah dunia bermain. Belajar bisa dilakukan anak bersama orang tua di mana saja.

    "Sejumlah ahli mengatakan semua anak pada dasarnya senang belajar. Jadi ciptakan suasana belajar yang gembira dan menyenangkan," kata pria yang akrab dipanggil Kak Seto, dalam sebuah seminar online bertajuk "Bincang Bersama Kak Seto"yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

    Kak Seto juga menambahkan ketika anak harus belajar di rumah, jangan biarkan mereka terus menerus di depan komputer. Pembelajaran bagi anak bisa dilakukan dengan mendongeng atau bermain di luar.

    "Perlu komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak. Kunci suksesnya adalah orang tua harus kreatif," tuturnya.

    Tak hanya itu, Kak Seto berpendapat bahwa semua anak pada dasarnya cerdas, namun anak memiliki keunikan masing-masing sehingga antara anak satu dengan yang lainnya bisa sangat berbeda.

    "Ada anak yang kecerdasannya di bidang matematika, fisika, atau melukis. Orang tua harus bisa menemukan kecerdasan anak," katanya.

    Selain Kak Seto, pembicara lainnya adalah psikolog Alissa Wahid dengan pembicara kunci Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N Rosalin.

  • Bakal Mengancam 218893 jiwa, Polrestro Jakbar Musnahkan Narkoba Hasil Operasi Selama Corona

    Bakal Mengancam 218893 jiwa, Polrestro Jakbar Musnahkan Narkoba Hasil Operasi Selama Corona

    Beritahati, Jakarta - Polres Metro Jakarta Barat memusnahkan barang bukti narkotika dan obat/bahan berbahaya (narkoba) antara lain; sabu, pil ekstasi, tembakau gorila hingga pil psikotropika dalam hasil operasi selama pandemi COVID-19.

    "Jumlahnya puluhan kilogram sabu hingga ratusan butir pil ekstasi dengan tersangka sebanyak 19 orang. Hasil operasi dari Maret hingga Mei 2020," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Audie S Latuheru kepada media, di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

    Audie menjelaskan, sebanyak 29,5 kilogram sabu dan 791 butir pil ekstasi didapatkan dalam penangkapan 19 tersangka selama dua bulan.

    “Selain itu ada juga tembakau sintetis yang biasa disebut sebagai tembakau gorila sebanyak 8,3 kilogram, beserta serbuknya yang berwarna krem dengan berat 2,4 kilogram, ada juga 42.000 butir pil eximer dan 3000 butir tramadol” ujar Audie.

    Dia juga menegaskan bahwa berdasarkan instruksi Kapolda Metro Jaya, pihaknya tidak akan menurunkan kualitas kinerja pemberantasan narkoba di tengah pandemi.

    Pemusnahan barang bukti narkoba tersebut dihadiri Wali Kota Jakarta Barat Rustam Efendi, perwakilan dari Kodim 0503 dan kejaksaan tinggi.

    Pemusnahan berbagai jenis narkoba tersebut dilakukan dengan mesin pembakar insinerator milik Badan Narkotika Nasional.

    "Kalau kita menghitung kira-kita akan berdampak kepada 218.893 jiwa dan hal ini terselamatkan dengan diamankannya sejumlah barang bukti ini," ujar dia.

    Ia menambahkan, sebanyak 19 pelaku yang berhasil ditangkap atas kasus narkoba itu dikenakan pasal 112 KUHP dan 114 KUHP tentang penyalahgunaan dan peredaran narkotika dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup hingga hukuman mati.

  • Presiden Jokowi Ingatkan Ancaman Covid 19 Masih Ada, Waspada Gelombang Kedua

    Presiden Jokowi Ingatkan Ancaman Covid 19 Masih Ada, Waspada Gelombang Kedua

    Beritahati, Jakarta - Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan jajaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 untuk terus melanjutkan upaya dan kerja keras guna mencegah terjadinya gelombang kedua penularan virus corona baru.

    “Ancaman COVID-19 masih ada. Kondisi dinamis. Ada daerah yang kasus barunya turun, ada yang daerah yang kasus barunya meningkat, ada daerah yang kasus barunya nihil, dan perlu saya ingatkan jangan sampai ada gelombang kedua (second wave). Jangan sampai ada lonjakan,” kata Presiden saat meninjau Kantor Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

    Presiden mengatakan situasi dinamis dalam penanganan COVID-19, dan tatanan normal baru akan terus terjadi hingga vaksin corona ditemukan, serta efektif bisa digunakan.

    Penciptaan vaksin akan memakan waktu yang tidak sebentar, karena melalui tahapan yang kompleks dari uji klinis hingga produksi massal. Di saat itu pula, masyarakat diharapkan dapat beradaptasi dengan tatanan kebiasaan baru, yang mengedepankan protokol kesehatan dalam kegiatan sehari-hari.

    “Adaptasi kebiasaan baru. Adaptasi itu bukan berarti kita menyerah apalagi kalah, tidak, tapi kita harus memulai kebiasaan baru sesuai protokol kesehatan sehingga masyarakat produkti tapi aman dari COVID-19,” ujar Jokowi.

    Penerapan kebiasaan baru di masing-masing daerah, kata Presiden, harus merujuk pada data dan fakta kasus COVID-19 di lapangan.

    Kesimpulan dari data COVID-19 juga menjadi penentu kebijakan penanganan COVID-19 di masing-masing daerah untuk terus menekan angka penularan.

    “Saya minta kalau data-data sudah bagus seperti itu, setiap hari diberikan peringkatnya kepada daerah-daerah yang kasusnya tertinggi, kematian tertinggi, sehingga semua daerah punya kewaspadaan yang sama dalam penanganan di lapangan,” tambahnya Presiden.

     

    Sejumlah Kalangan Masyarakat Masih Khawatir
    Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia IAKMI Jakarta Baequni mengatakan jika masyarakt abai terhadap protokol pencegahan COVID-19 dalam menjalani era normal baru, maka berpotensi merebaknya gelombang kedua COVID-19.

    "Jika pelaksanaan new normal life (hidup normal baru) ini tidak sesuai dengan protokol, maka kita harus bersiap untuk gelombang kedua COVID-19, teruatama ketika masyarakat abai terhadap protokol tersebut," kata Baequni seperti dilansir Antara, Selasa (9/6).

    Baequni menuturkan untuk mempersiapkan normal baru, semua sarana prasarana harus mendukung.

    Dia menuturkan perlu ada penilaian awal untuk menjawab kesiapan semua untuk menjalankan aturan yang dikeluarkan untuk hidup normal baru.

    "Jangan sampai protokol yang ada hanya sekedar protokol, tapi pelaksanaannya ternyata banyak hambatan," ujarnya.

    Menurut dia, masyarakat belum terbiasa dengan protokol normal baru sehingga tantangannya adalah menjadikan protokol kesehatan untuk pencegahan COVID-19 sebagai bagian dari budaya.

    "Jangan sampai protokol new normal life hanya sebatas jargon karena bagaimanapun kita harus kembali garisbawahi bahwa selama belum ada vaksin dan obatnya, satu-satunya cara memutus rantai penularan adalah pencegahan," tuturnya.

  • Ikhlas, Banyak Warga Desa di Sleman Tolak BLT Covid 19 dari Dana Desa

    Ikhlas, Banyak Warga Desa di Sleman Tolak BLT Covid 19 dari Dana Desa

    Beritahati, Yogyakarta - Sejumlah warga di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bersedia menerima dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk masyarakat terdampak COVID-19 yang bersumber dari Dana Desa karena mereka merasa sudah mampu dan minta mengalihkan kepada warga lain yang lebih membutuhkan.

    "Ada sekitar 15 sampai 20 warga Sleman yang tidak bersedia menerima BLT dari Dana Desa dan mengembalikan undangan untuk mengambil BLT ke pemerintah desa," kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kabupaten Sleman Shavitri Nurmaladewi di Sleman, Rabu (10/6/2020).

    Shavitri menambahkan ada sejumlah alasan warga yang mengembalikan bantuan tersebut kepada pemerintah desa, diantaranya merasa tidak berhak karena sudah mampu dan masih banyak yang lebih membutuhkan, masih kuat bekerja dan berusaha.

    "Sehingga mereka dengan ikhlas dan jujur merasa lebih baik diberikan kepada yang lain yang lebih membutuhkan," katanya.

    Ia mengatakan, salah satu warga yang mengembalikan BLT Dana Desa yaitu Mardi warga Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan.

    "Pak Mardi ini tidak bersedia menerima BLT Dana Desa karena merasa masih mampu dan masih bisa bekerja, sehingga mengembalikan undangan ke Pemerintah Desa Margoluwih," katanya.

    Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Sleman, penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa pada bulan pertama yang dilaksanakan dari 15 hingga 22 Mei 2020 dengan sasaran sebanyak 13.219 penerima manfaat/KK.

    "Dari jumlah tersebut, data yang tidak tersalurkan sebanyak 268 KPM, dikarenakan sudah menerima bantuan dari sumber lain, sudah pindah alamat dan meninggal dunia," katanya.

     

Galeri