13/09/2016 18:30 756


Pemuda dan Bahaya Radikalisme

Cinque Terre

Beritahati.com, Jakarta - Di awal tahun 2016 ini, kita dihebohkan dengan ledakan bom di kawasan Thamrin, Jakarta. Peristiwa ini menambah rangkaian peristiwa terorisme di negara kita.

Masih sangat hangat diingatan kita, pada Kamis, 14 Januari 2016 lalu, peristiwa tersebut terjadi dan berawal dari sebuah ledakan di depan Pos Polisi Sarinah dan gerai kopi Starbuck.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 10.40 WIB, lalu ledakan kedua terdengar sekitar pukul 10.50 WIB, disusul ledakan ketiga pukul 10.56 WIB, dan ledakan keempat pukul 10. 58 WIB, kemudian ledakan kelima pukul 11.00 WIB, dan ledakan terakhir pukul 11.02 WIB. Sebanyak enam ledakan terjadi dalam waktu begitu singkat.

Kemudian baru-baru ini, tidak jauh dari lingkungan kita di Medan, terjadi juga aksi teror bom bunuh diri pada hari Minggu, 28 Agustus lalu di gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansyur. Untung belum sempat terjadi ledakan dan pelaku dapat ditangkap dan diamankan serta tidak ada korban.

Peristiwa teror bom tersebut ironisnya dilakukan oleh anak-anak muda, seperti kejadian di Thamrin tersebut oleh pemuda berusia 20-30 tahun, bahkan pelaku di Medan masih berusia 18 tahun.

Serangkaian aksi terorisme sebelumnya mulai dari bom Bali 1, bom Gereja Kepunton, bom di JW Marriot dan hotel Ritz-Carlton, hingga aksi penembakan pos Polisi Singosaren di Solo dan bom di Beji dan Tambora misalnya juga melibatkan pemuda.

Di sisi lain kita mengetahui bahwa pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Masa depan negeri ini bertumpu pada kualitas mereka. Namun kenyataannya kini tak sedikit kaum muda yang justru menjadi pelaku terorisme.

Fakta di atas diperkuat oleh berbagai kajian dan riset yang dilakukan terkait radikalisme dan terorisme di Indonesia. Misalnya, riset oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip) di kalangan siswa dan guru pendidikan agama Islam (PAI) di Jabodetabek pada Oktober 2010-Januari 2011.

Lakip menemukan sedikitnya 48,9 persen siswa menyatakan bersedia terlibat dalam aksi kekerasan terkait dengan agama dan moral. Bahkan yang mengejutkan, belasan siswa menyetujui aksi ekstrem bom bunuh diri dalam aksi terorisme. Kemudian Setara Institute dalam kajiannya menemukan bahwa satu dari 14 siswa di Jakarta dan Bandung setuju atas keberadaan Islamic State (IS).

Sebelumnya, riset Maarif Institute pada 2011 tentang pemetaan problem radikalisme di SMU negeri di empat daerah, Pandeglang, Cianjur, Yogyakarta, dan Solo yang mengambil data dari 50 sekolah, mengkonfirmasi fenomena tersebut.

Menurut riset ini, sekolah menjadi ruang yang terbuka bagi diseminasi paham apa saja. Karena pihak sekolah terlalu terbuka, kelompok radikalisme keagamaan memanfaatkan ruang terbuka ini unuk masuk secara aktif mengkampanyekan pahamnya dan memperluas jaringannya.

Kelompok-kelompok keagamaan yang masuk mulai dari yang ekstrem menghujat terhadap negara dan ajakan untuk mendirikan negara Islam, hingga kelompok Islamis yang ingin memperjuangkan penegakan syariat Islam (Junal Maarif, Vol.8.No 1, Juli 2013).

Selain itu Fahmina Institute juga melakukan kajian dan merilis dalam kurun waktu tahun 2012-2015 ditemukan 33 tindakan pelanggaran dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Selain itu juga ditemukan adanya pengaruh organisasi-organisasi kemahasiswaan di kampus yang mengajak pada perilaku intoleran berbau radikalis mengarah pada terorisme, yang seolah dibiarkan begitu saja menjajakan pengaruhnya.

 


1 / 2

Back to Top