27/10/2016 20:36 1246


PILKADA DKI : Agonisme vs Antagonisme Politik

Cinque Terre

Oleh Peter Tan 

TOPIK Pilkada DKI Jakarta 2017 berkembang bagai bola panas yang liar di media sosial akhir-akhir ini. Hal menarik ialah dinamika politik yang dimainkan para calon gubernur dan wakil gubernur, serta tim pemenangan, meliputi strategi, program, visi, misi bahkan intrik. Di sini, kita merenungkan kembali bahwa watak dasar politik adalah pertarungan (polemos). Mouffe, seorang filsuf politik kontemporer, menyebutnya sebagai “modus eksklusi”. Modus eksklusi berarti praktek politik selalu melibatkan hegemony practices [praktek hegemoni]. Karena politik yang sesungguhnya tidak terjadi di parlemen dan di kantor-kantor pejabat pemerintahan, tidak di academia melainkan dalam polis, dalam ruang real ekonomi dan sosial warga, dengan pluralitas kelompok dan kepentingannya, maka hegemony practices akan menimbulkan counter hegemony. Lewat counter hegemony, watak dasar politik sebagai polemos mengemuka. Pertarungan strategi, taktik, intrik, wacana, program tak dapat lagi dihindari. Setiap subjek politik ditafsir sebagai oposan, lawan bahkan musuh. Pada titik ini, counter hegemony itu menampakkan dua model wacana yang saling bertentangan dalam pertarungan politik: agonisme vs antagonisme. Model wacana manakah yang dominan dalam pertarungan politik para calon gubernur dan wakil gubernur, tim pemenangan, dan seluruh masyarakat Jakarta menghadapi Pilkada 2017?

 


1 / 4

Back to Top