Beritahati.com, Jakarta - Pria paruh baya Serius mengerjakan lembar demi lembar soal ujian.
Meski usianya telah 62 tahun, lelaki itu semangat menggarap soal-soal Ujian Nasional (UN) 2016. M Muhlasin, nama pria itu. Dia adalah satu dari 2.810 peserta paket C yang mengikuti ujian kesetaraan itu, di Yayasan Al Muhajirin, Pancoran Mas Depok.


Muhlasin, yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Polresta Depok bagian kurir ini, menyimpan harapan besar dengan UN itu.


Ia ingin sekali meningkatkan taraf hidup. Dengan ijazah dalam genggamannya nanti, ia berharap golongannya bisa naik setingkat lebih tinggi dari golongan 2 C ke 2 D.


"Ya mudah-mudahan pas punya ijazah bisa alih golongan," ujarnya.Selasa (5/4).


Tak beda dengan peserta lain. Untuk menghadapi UN ini, Muhlasin mempersiapkan ujian ini dengan belajar semaksimal mungkin.


"Persiapan khusus enggak ada, paling banyakin baca, sama doa. Alhamdulillah keluarga ngedukung semua, termasuk pimpinan saya," ujarnya.

Sebenarnya, Muhlasin pernah mengenyam pendidikan waktu SMA. Namun karena masalah biaya, pendidikannya pun putus di tengah jalan. Kala itu, ia harus memutar otak mencari penghasilan untuk menafkahi orangtua dan beberapa adiknya.


Kemarin, ia bersama sejumlah peserta UN kesetaraan paket C, mendapat dua mata ujian, yakni Bahasa Indonesia dan Geografi.


Muhlasin mengaku cukup kewalahan menghadapi ujian kedua. Dia menjadi peserta terakhir yang mengumpulkan lembar jawaban.


"Iya yang soal terakhir lumayan susah. Yang ngejelasin tentang kependudukan. Ya bismillah saja dah, semoga lulus, hehehe," ujarnya.

Terkait ujian kesetaraan ini, Dinas Pendidikan Kota Depok mencatat, ada sebanyak 2.810 peserta kesetaraan UN paket C di kota ini. Mereka tersebar di sembilan titik lokasi ujian.


Kasi Pendidikan Masyarakat Disdik Depok Ika Rosita mengatakan, angka ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.


"Tahun 2015 kemarin peserta Paket C ada sekitar 2.185 peserta. Tahun ini meningkat cukup tinggi," ujarnya.


"Itu artinya sosialisasi kami (Disdik) berjalan. Masyarakat sekarang sudah sadar betul pentingnya ijazah. Sudah enggak peduli lagi dengan gengsi. Kami sangat bersyukur tentunya," ujar Ika.