Beritahati.com, Jakarta - Komunitas Persaudaraan NTT di Jakarta telah melakukan dialog dengan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol. Boy Rafli Amar pada 16 Desember 2016 lalu.


Diketahui, pertemuan tersebut terkait peristiwa penikaman 7 (tujuh) siswa SDN I Sabu Barat, di Kabupaten Sabu Raijua, NTT, pada tanggal 13 Desember 2016.


Koordinator Komunitas Persaudaraan NTT, Petrus Selestinus mengatakan, semua pihak sepakat tindakan pelaku tergolong biadab dan tidak berperikemanusiaan.


Pasalnya, pelaku menjadikan anak-anak kecil yang tidak berdosa sebagai target untuk mengganggu kehidupan yang rukun dan penuh toleransi di NTT.


"Peristiwa tragis ini harus menjadi peristiwa terakhir, tidak boleh terjadi lagi di bumi NTT, karenanya kami meminta agar Kapolda NTT tidak boleh secara prematur memberikan penilaian bahwa peristiwa penusukan tersebut sebagai kriminal murni," ujar Petrus melalui keterangannya, Senin (19/12).


Dikatakan Petrus, Polda NTT harus terus menggali motif dasar secara mendalam melalui teknik psikodiagnostik terhadap jekak-jejak yang ditinggalkan oleh pelaku.


Upaya tersebut kata Petrus supaya dapat disusun profiling psikologi untuk membantu penyidik guna memperkirakan siapa-siapa saja yang menjadi pelaku dengan ciri-ciri yang termuat dalam profiling.


"Meskipun pelaku penusukan sudah mati akibat penghakiman oleh massa, namun kami meminta agar polisi tidak boleh berhenti mengusut kasus ini dan harus diusut sampai tuntas. Para korban harus diberikan pemulihan kejiwaan oleh Tim Psikologi dari Bareskrim Polri," jelasnya.


Sedangkan jasad pelaku kata Petrus perlu dilakukan autopsi psikologi untuk mendapatkan gambaran tentang kepribadian pelaku yang sudah mati. Sehingga publik bisa mengetahui apakah peristiwa ini bagian dari aktivitas kelompok radikal atau ini perkara kriminal murni. 


"Karena sebelumnya terdapat aktivitas kelompok radikal di NTT yang telah dideteksi oleh Polda NTT, bahkan beberapa kelompok telah diamankan dan dipulangkan oleh Polda NTT tanpa proses hukum," pungkasnya.