Beritahati.com, Jakarta - Koordinator Formappi, Sebastian Salang menilai pertarungan Pilkada putaran kedua Pilgub DKI Jakarta semakin tidak sehat. Pasalnya, eksploitasi SARA semakin menguat melalui penyebaran spanduk provokatif.


Sebastian menambahkan, hal itu sangat menyedihkan dan kemunduran bagi demokrasi. Apalagi ini terjadi di ibukota negara dengan tingkat pendidikan pemilih yang tinggi dibanding daerah lain.


"Saya sangat sepakat dengan penurunan spanduk provokatif tersebut. Bahkan menurut saya bukan lagi provokasi tetapi intimidasi kepada pemilih untuk tidak memilih calon non muslim," ujar Sebastian kepada Beritahati.com, Selasa (21/3).


Untuk itu kata Sebastian, pemerintah Propinsi DKI tak hanya menurunkan spanduknya, tetapi polisi harus mengusut siapa yang membuat, atas pesanan siapa. Kalau diketahui pemesan, pembuat dan pemasangnya, sebaiknya ditangkap dan proses secara hukum karena tindakan tersebut telah meresahkan.


"Ini adalah teror politik yang menciptakan ketakutan bagi pemilih untuk memilih calon terbaik berdasarkan hati nuraninya. Kita sedang memilih pemimpin daerah, bukan pemimpin agama," tegasnya.


Sementara itu Sebastian meminta pemerintah harus tegas dalam soal ini. Jika tidak kelompok yang menebar ketakutan akan semakin merajalela menjalankan operasinya.


"Kepada calon, harus bicara tegas juga soal ini. Anda itu pemimpin, jangan berpikir sempit dan berpikir sektarian. Sebab jika terpilih nanti, kalian itu menjadi pemimpin semua masyarakat Jakarta, tanpa pandang bulu agamanya apa, sukunya apa dll," imbuhnya.


"Jangan biarkan demokrasi kita dan negara ini dibajak oleh orang yang berpikiran sempit dan rasis. Kita butuh pemimpin yang lebih terbuka, mengayomi dan punya karakter serta integritas tinggi," tandasnya.


Diketahui Pemerintah Propinsi DKI Jakarta gencar melakukan penertiban spanduk yang bertuliskan larangan mensalatkan jenazah umat Islam pendukung calon nomor urut dua Basuki T Purnama alias Ahok.


Hingga Minggu (19/3/2017) kemarin, Satpol PP telah menurunkan 651 spanduk provokatif tersebut. Rinciannya, sebanyak 165 spanduk di Jakarta Barat, 155 spanduk di Jakarta Pusat, 138 spanduk di Jakarta Timur, 82 spanduk di Jakarta Utata, 104 spanduk di Jakarta Selatan, dan 7 spanduk di Kepulauan Seribu