Beritahati.com, Jakarta - Sejatinya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau juga dikenal dengan singkatan RPTRA adalah konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai permainan menarik, pengawasan CCTV, dan ruangan-ruangan yang melayani kepentingan komuniti yang ada di sekitar.


Namun, apa yang terjadi di RPTRA Kalijodo, Jakarta Barat? Kini, di RPTRA tersebut mulai diduduki sejumlah preman. Mereka mengusai sejumlah lapak parkir dan akses masuk jalan yang ada di lokasi taman bekas tempat esek-esek tersebut.


Disisi lain, lima unit mesin Tarif Parkir Elektronik (TPE) yang disediakan di tempat itu tak berfungsi. Parkir dikawasan itupun tak di setorkan ke Pemprov DKI meskipun di beberapa titik terdapat ?beberapa petugas Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta.


Para preman berseragam rompi hijau mematok tarif parkir dua kali lipat dari ketentuan Pemprov. Untuk sepeda motor ditarik Rp 3 ribu - Rp 5 ribu. Sementara untuk mobil, dikenakan tarif Rp 5 ribu - Rp 10 ribu.


Meski beberapa kendaraan di sekitaran jalan Kepanduan II, inspeksi BKB (Banjir Kanal Barat) tampak tersusun rapih. Namun beberapa diantara kendaraan dibiarkan masuk ke dalam arena taman, merusak sejumlah rumput dan paping Block.



Rud?I (39) salah satu pengunjung di kawasan itu mengeluhkan dengan ,kondisi parkiran Kalijodo, terutama soal beban parkir,Pasalnya, tarif yang di tentukan jauh di atas normal. Bahkan dalam kondisi tertentu parkir bisa mencapai Rp 15 ribu.


"Rp 10 ribu pas mobil keluar, Rp 5 ribu pas masuk jalan. Mintanya maksa, kalo ngga mobil saya bisa di baretin," uhar Rudi ketika di temui, di kawasan Kalijodo, Senin (24/4).


Lain halnya dengan Firmansyah (29), yang mengaku tidak mengetahui dengan tarif parkir ini. Namun dirinya menyayangkan dengan tak berfungsinya mesin TPE. Sebagai pekerja resto di jalan Sabang, Jakarta Pusat. Firman paham betul tentang operasional mesin itu.


"Makanya aneh, pas saya pencet pencet, tuh mesin tidak berfungsi," ujarnya.


Sekalipun tidak menggunakan TPE, namun para petugas mengaku melakukan penyetoran terhadap petugas dishub, bahkan setiap harinya tiap tukang parkir di wajibkan menyetor sekitar Rp 100 ribu.


"Kalo disini adalah sekitar belasan tukang parkir," ujar Hilman (29), salah satu Jukir di RPTRA Kalijodo.


Meski demikian Hilman enggan berkomentar lebih mengenai parkirian di kawasan ini. Ia memilih bungkam dengan siap yang koordinir parkiran di kawasan ini.


"Yang jelas, tiap lokasi beda, di sisi selatan ada kelompoknya, di utara ada, dan di barat samping kali mati ada juga," katanya.


Secara terpisah, Wakadishub DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko membenarkan tentang Kondisi RPTRA Kalijodo yang kini dikuasai preman-preman. Mereka, kata Sigit, merupakan anak buah dari mantan preman kalijodo, yakni Daeng Azis dan Daeng Jamal.


"Preman disana coba masuk dan atur parkiran di kawasan itu," ujar Sigit ketika di konfirmasi.



Meski begitu, Sigit belum mengetahui kenapa TPE tidak di gunakan. Terkait hal inipun dirinya akan berkoordinasi dan bertanya kepada UP parkir mengenai tidak dapat digunakannya mesin itu.


"Padahal beberapa waktu lalu sudah di lakukan operasi pemberantasan preman. Saya juga ngga tau kenapa mereka balik lagi," kilah Sigit.


Sigit pun berencana akan melakukan operasi serupa, membrantas dan mengusir preman di kawasan Kalijodo.


Rencananya kegiatan ini akan dilakukan besok, Selasa (25/4) dengan mengerahkan personil kepolisian dan TNI dimulai pada pagi hari.


"Apelnya kita lakukan di kantor walikota jakut," tandasnya.


Ubah Sistem


Demi menghindari dan menggusur preman di Kalijodo, Sigit mengatakan pihaknya akan menerapkan sistem baru untuk parkiran disana.


Nantinya, parkiran di tempat itu akan digunakan sistem gate, seperti di kawasan IRTI maupun mall. Gerbang gate akan di pasang dua di bagian selatan dari jalan Tubagus Angke, dan bagian utara dari jalan teluk Gong.


Termasuk sistem parkir. koordinasi ini tengah memasuki sistem pematangan, salah satunya menentukan tarif parkir.


Nantinya parkir disini tidak akan menggunakan TPE melainkan gate dengan tarif perjam, yakni Rp 2.000 untuk sepeda motor. Rp 5.000 untuk mobil, dan Rp 8.000 untuk truk dan bus.


"Nantinya untuk 15 menit pertama kami kenakan gratis parkir," jelas Sigit.


Mempercepat hal itu, ia pun berencana akan melakukan pemanggilan kepada Kepala UP Parkir.


"Saya janji dalam waktu sepekan parkiran di RPTRA Kalijodo tak dikuasai preman," pungkas.Wakadishub DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko.