Deteksi dini bencana alam, BNPB luncurkan tiga software

Deteksi dini bencana alam, BNPB luncurkan tiga software

Reporter : Miechell

Beritahati.com, Jakarta - Guna mendeteksi dini bencana alam yang terjadi di Indonesia, BNPB Pusat meluncurkan tiga aplikasi sistem informasi bencana alam yaitu Multi Hazard Early Warning System (MHEWS), Indonesia All Warning, Analysis and Risk Evaluation (InAWARE) dan Indonesia Scenario Assessment for Emergencies (InaSafe).


Peluncuran tiga aplikasi tersebut, mengambil momentum pencanangan 26 April 2017 sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Nasional.


Kepala BNPB Pusat , Willem Rampangilei, mengatakan, tiga aplikasi sistem informasi bencana alam tersebut memiliki fungsi berbeda-beda. MHEWS adalah sistem informasi prediksi potensi bencana hidrometeorologi yang merupakan kombinasi prediksi cuaca resolusi dan ketetapan tinggi dengan indeks bencana InaRisk. Sistem ini dapat diakses melalui situs mhews.bnpb.go.id sebagai aplikasi sistem berbasis website.


Fitur utama dalam sistem ini adalah prediksi bencana maupun peringatan difokuskan pada bencana banjir dan tanah longsor di Indonesia.Tidak lupa fitur pelengkap yang dapat digunakan untuk keperluan prediksi cuaca serta parameter fisis oseanografi.


"Indonesia adalah negara sangat rawan bencana. Jutaan saudara sebangsa tinggal di daerah rawan bencana, sehingga inisiasi peluncuran aplikasi deteksi bencana seperti ini sangat diperlukan," sebut Kepala BNPB, Willem Rampangilei, Rabu (26/4).



Sedangkan, InAWARE dirancang untuk memenuhi kebutuhan komunitas pekerja kemanusiaan dan pengelolaan bencana melalui peningkatan alat bantu serta fungsi-fungsi pendukung dalam pengambilan keputusan. InAWARE dirancang juga sebagai sebuah platform dasar yang dapat dioperasikan untuk saling bertukar data dengan sistem lainnya.


Platfofm InAWARE turut memperhitungkan metodologi dan teknologi perolehan data, pengembangan model ancaman, evaluasi risiko dan kerentanan, pemetaan dan visualisasi bencana alam.


"InAWARE juga secara berkesinambungan memantau asupan informasi dari badan-badan meteorologi dan geologis di seluruh dunia, untuk menjamin pelaporan potensi ancaman bencana secara langsung dan akurat," terangnya.


Aplikasi terakhir adalah InaSAFE. Dirancang pertama kali oleh penggagasnya Department of Foreign Affairs and Trade - Australian Aid, melalui Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) dan Bank Dunia - Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (World Bank - GFDRR).


InaSAFE juga merupakan proyek software bebas terbuka atau Free and Open Source Software (FOSS) sehingga dipublikasikan dengan lisensi GPL V3.


"Siapapun dapat mengunduh, membagikan dan memodifikasi perangkat lunak ini," tutup Willem.


Dengan kehadiran tiga software penanggulangan bencana ini memang menjadi terobosan mutakhir BNPB sebagai badan nasional yang sangat diandalkan bangsa ini baik untuk deteksi dini, edukasi masyarakat sampai penanggulangan sebuah bencana di Indonesia.


 

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top