148 
Selamatkan ikan kerapu dan rumput laut, warga terapkan teknologi "kearifan lokal'

Selamatkan ikan kerapu dan rumput laut, warga terapkan teknologi

Reporter : Miechell

Beritahati.com, Jakarta - Habitat ikan kerapu ditengarai mulai terganggu sehingga bersampak pada berkurangnya atau bahkan cenderung menuju habisnya komunitas ikan kerapu di perairan pesisir Indonesia.


Ikan kerapu adalah ikan dengan daging yang lezat sehingga memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat Indonesia. Namun aksi penangkapan ikan tidak sehat dengan merusak terumbu karang menjadi salah satu penyebab mulai turunnya komunitas ikan tersebut.


Selain karena penangkapan yang tidak benar dengan merusak terumbu karang, banyak nelayan juga menangkapi kerapu yang masih kecil. Kasus ini sama dengan yang terjadi terhadap lobster, namun dapat selamat karena Menteri Kelautan, Susi Pudjiastuti segera menurunkan peraturan tentang penangkapan lobster di NTB.


"Komunitas ikan kerapu banyak di wilayah pesisir dengan terumbu karang sebagai tempat berdiam dan memijah (kawin). Sekarang sudah parah, bahkan di perairan indonesia timur seperti Sulawesi saja ikan kerapu mulai sulit ditemukan," beber Anton Wijonarno, MPA for Fisheries, WWF-Indonesia, Jumat (12/5), di Gedung Mina Bahari, KemenKP, Jakarta pusat.


Oleh karena itu, WWF-Indonesia bersama KemenKP dan TNP Laut Sawu, mulai menggagas usaha mengembalikan habitat ikan kerapu di wilayah perairan pesisir laut sawu di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).


"Kami mulai melakukan upaya penyelamatan ikan kerapu berikut rumput laut dengan metode berbasis kearifan lokal 'hoholok/papadak' milik masyarakat setempat di Rote Ndao," sebut Rahmat Hidayat, Peneliti Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, Jumat (12/5), di Gedung Mina Bahari, KemenKP, Jakarta pusat.


"Hoholok/Papadak adalah kearifan lokal yang menutup wilayah baik perairan maupun daratan yang sedang digarap oleh warga, contohnya area penanaman rumput laut dan budi-daya ikan kerapu melalui pelestarian terumbu karang," sambungnya.


Dia melanjutkan, upaya tersebut sudah dijalankan mulai Oktober 2016 hingga sekarang. Telah dibentuk Dewan Kelautan yang berisi berbagai unsur yakni masyarakat lokal, Balai Konservasi Perairan NTT, KemenKP, TNI AL, Polri (Polair), WWF-Indonesia, KemenLHK, Pemprov NTT (Dinas Kelautan dan Dinas LH), serta elemen-elemen NGO terkait lainnya.


Langkah yang sudah berjalan sekarang adalah masyarakat Rote Ndao sudah mulai 'menutup' (mensterilkan) daerah budi-daya rumput laut serta pengembangan habitat ikan kerapu melalui pelestarian terumbu karang.


"Menutup itu artinya tidak boleh disentuh oleh siapapun sebelum masa panen (rumput laut) tiba, dan daerah tersebut juga tidak boleh dimasuki siapapun selama pemulihan habitat terumbu karang sebagai habitat ikan kerapu belum membuahkan hasilnya," imbuhnya.


Rahmat belum memiliki angka keberhasilan karena upaya ini memang baru berjalan. Tapi ke depannya semua pihak yang terlibat di sini yakin, bahwa kembalinya ikan kerapu untuk menghuni pesisir Rote Ndao dan panen rumput laut, dapat berdampak pada ekonomi masyatakat lokal.


"Kami berasama WWF-Indonesia juga sudah turun ke lapangan untuk edukasi mengenai budi-daya rumput laut serta bagaimana metode tangkap ikan kerapu tanpa mengganggu program perikanan berkelanjutan yang dicanangkan KemenKP," pungkas Rahmat Hidayat, Peneliti Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, NTT.

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top