Beritahati.com - Sebuah kebudayaan, kebiasaan atau aturan disuatu negara tentunya punya maksud yang ditujukan untuk kebaikan rakyat dan negaranya. Kepala pengadilan agama Islam Palestina pada Minggu (28/5) sore waktu setempat mengatakan kepada para hakim agar tidak mengabulkan gugatan perceraian selama bulan Ramadhan, khawatir puasa sebulan bisa memicu perkataan gegabah yang akan disesali kemudian.


Hakim Mahmud Habash mengatakan dia membuat putusan tersebut berdasarkan "pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya" ketika dia mendapati puasa sejak subuh hingga terbenam matahari serta larangan merokok yang dimulai pada Sabtu bisa mempengaruhi emosi.


"Mereka lama tidak makan dan tidak merokok, menimbulkan masalah" dalam pernikahan mereka, dan mereka bisa membuat "keputusan terburu-buru dan kurang matang", katanya dalam satu pernyataan yang dirilis AFP


Untuk diketahui, tidak ada pernikahan atau perceraian sipil di wilayah Palestina, di mana hanya pengadilan agama yang memiliki kekuasaan atas hal tersebut.


Menurut Otoritas Palestina, 50.000 pernikahan dirayakan di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza pada 2015, namun lebih dari 8.000 perceraian juga didaftarkan.


Pengangguran, kemiskinan ditinggal perang menjadi faktor pendorong utama terjadinya perceraian.