123 
Ini bocoran Yayuk Basuki soal peluang tenis Indonesia di kancah Asian Games 2018

Ini bocoran Yayuk Basuki soal peluang tenis Indonesia di kancah Asian Games 2018

Reporter : Miechell

Beritahati.com, Jakarta - Legenda hidup Tenis Indonesia, Sri Rahayu Basuki atau akrab disapa Yayuk Basuki, mengatakan bahwa peluang Tim Tenis Indonesia dalam Asian Games Jakarta-Palembang 2018 mendatang, meski sangat kecil, namun peluang itu masih ada. untuk menjadi juara masih terbuka.


"Minimal medali perunggu bisa dikejar, namun harus dengan perjuangan sangat keras mengingat peta persaingan petenis di Asia Tenggara bahkan Asia sudah sangat berat," ungkap Yayuk.


Yayuk Basuki yang dijuluki 'Jaguar' di masa jayanya, memang ini tidak berani berkomentar muluk-muluk selain meminta doa seluruh bangsa Indonesia saja.


"Saya mendahului Tuhan jika mengatakan tidak ada peluang. Mari berdoa saja semoga pengurus (PB PELTI) bisa memanfaatkan semua kekuatan yang ada untuk mempersembahkan kebanggaan bagi bangsa dan negara," kata legenda Tenis Indonesia ini kepada Beritahati.com.


Tak hanya menyemangati para atlit, Yayuk juga komitmen memberikan kesejahteraan atlit di masa tua, lewat revisi Undang Undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN) yang tengah diperjuangkannya kini. Salah satunya yakni melahirkan kurikulum khusus untuk olahraga dengan Sekolah Khusus Olahraga (SKO).


Peraih medali emas Asian Games Bangkok, 1997 ini menuturkan bahwa seorang atlit tidak bisa mengikuti kegiatan belajar seperti para pelajar pada umumnya. Butuh pemadatan materi agar jadwal latihan tidak terganggu. Dengan demikian butuh kurikulum khusus sampai sekolah khusus.


Kehadiran Sekolah Atlet Ragunan hingga saat ini memang banyak membantu, akan tetapi seiring bergantinya masa, Sekolah atlit Ragunan malah semakin tidak bisa dikembangkan. Semua fasilitas menjadi ala kadarnya, kebersihan buruk, sanitasi bermasalah, bahkan ketersediaan air bersih juga kerap menjadi masalah.


Sehingga banyak atlit tidak mau masuk ke sana dan memilih tinggal di tempat yang lebih nyaman yang tanpa disadari mempengaruhi program-program latihannya sendiri (menjadi tidak maksimal).


"Memang ada tumpang tindih peran di sekolah Ragunan, yakni itu milik Pemda namun dikelola Kemenpora. Tapi itu sebenarnya tidak boleh menjadi alasan untuk menjadi buruk. Tata kelola harus diperbaiki melalui revisi UU SKN," kata petenis yang pernah merontokkan Iva Majoli di Kanada Terbuka 1996 ini saat ditemui beritahati.com di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (13/6).


Yayuk memahami, olahraga bukan sebuah proses instan. Bahkan dalam lima tahun, belum tentu muncul seorang atlit potensial, akan tetapi jika undang-undang yang mengaturnya sudah diperbaiki, minimal dunia olahraga Indonesia sudah on track atau berada di jalur yang benar menuju sebuah kesuksesan di masa mendatang.


Selepas dirinya pensiun dari dunia Tenis Nasional dan Profesional, sempat muncul nama Angelique Widjaja, Juara Wimbledon Junior 2001. Namun ketika Angie meredup, praktis hilang sudah generasi petenis putri andalan Indonesia. Dan dengan memperbaiki sistem olahraga nasional, Yayuk Basuki yakin tidak akan lagi muncul masalah serupa.


Berikut beberapa prestasi mengkilap penuh kenangan dan moment membanggakan dari Yayuk Basuki sejak kemunculannya 1987 hingga pensiun sebagai petenis profesional di awal 2000.


1. Perempat finalis Wimbledon Junior (1987).
2. Juara Indonesia Terbuka (1993, 1994).
3. Atlet Terbaik versi SIWO PWI Jaya (1995).
4. Mengalahkan Iva Majoli di Kanada Terbuka (1996)
5. Medali Emas Asian Games Bangkok, Thailand (1997).
6. Perempat finalis Perancis Terbuka (1997).
7. Perempat finalis Wimbledon (1997).
8. Menembus Peringkat 21 Dunia WTA (1997).
9. Didaulat sebagai Brand Ambassador WTA Finals 2016 bersama 8 etenis top legendaris dunia lainnya yaitu Martina Navratilova, Arantxa Sanchez, Alicia Molik, Chris Evert, Iva Majoli, Mary Pierce, Manica Sales dan Tamrine Tanasugarn.


(Editor : Cahyo)

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top