Menapaki sejarah gelar 'haji' di Indonesia

Menapaki sejarah gelar 'haji' di Indonesia

Penulis: Fariana

Beritahati.com, Jakarta - Kepulauan Seribu menjadi salah satu destinasi wisata saat berkunjung ke Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Di sinilah, tepatnya di Pulau Kelor, pernikahan pasangan selebriti Atiqah Hasiholan & Rio Dewanto dilaksanakan pada Sabtu, 24 Agustus 2013 lalu.


Selain Pulau Kelor, masih ada pulau yang menjadi sorotan, yakni Pulau Onrust. Pulau inilah yang menjadi embarkasi haji pertama Indonesia sekaligus saksi asal muasal gelar "haji" diberikan kepada warga pribumi oleh Pemerintah Hindia Belanda.


Mau tahu fakta-fakta tentang Pulau Onrust yang dikenal pula dengan kisah misterinya?


1. Pulau tempat peristirahatan petinggi Kesultanan Banten.


Pulau Onrust merupakan pulau yang kerap didatangi petinggi Kesultanan Banten, kerajaan yang menguasai wilayah Batavia (kini Jakarta) kala itu, untuk beristirahat. Suasananya yang sejuk dan rindang dipenuhi pepohonan menjadi alasan para petinggi betah di sana. Ini berlangsung sebelum abad ke-17, sebagaimana dikutip dari laman Catatan Harian Keong.


2. Pulau Kapal super sibuk.


Semenjak Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau persekutuan dagang asal Belanda datang dan berkuasa pada tahun 1619, Pulau Onrust menjadi super sibuk. Disebut-sebut, dalam bahasa Inggris, Onrust berarti unrest, yang bermakna tidak pernah beristirahat. Di sanalah aktivitas pembangunan dan perbaikan kapal VOC dilaksanakan. Maka tak heran kalau Pulau Onrust juga disebut Pulau Kapal.


3. Embarkasi haji pertama di Indonesia.


Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Pulau Onrust sebagai karantina haji pada tahun 1911 sampai 1933. Para jamaah haji dikarantina karena Belanda takut mereka yang pulang haji menyebarkan semangat nasionalisme melawan kolonialisme Belanda kala itu.


Pasalnya kala itu, orang-orang yang berhaji akan berada di Arab setidaknya dalam jangka waktu tiga bulan. Sambil beribadah haji, mereka belajar agama. Dari sinilah, tokoh-tokoh yang membawa perubahan sepulang haji lahir. Disebutkan dalam Catatan Harian Keong, beberapa tokoh tersebut seperti Muhammad Darwis atau dikenal Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan Cokroaminoto (pendiri Sarekat Islam). Kondisi inilah yang menjadi ancaman bagi Belanda.


Maka, pemerintah Belanda mulai melakukan strategi mengawasi mereka yang pulang haji dengan memberi gelar haji di depan namanya. Bahkan ketentuan ini tercantum dalam Peraturan Pemerintahan Belanda tahun 1903. Dengan pemberian gelar haji, Belanda bisa mengetahui siapa dalangnya ketika ada pemberontakan.


 


 


 

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top