Ini dia didong, kesenian tradisional Aceh

Ini dia didong, kesenian tradisional Aceh

Penulis: Fariana

Beritahati.com, Aceh - Pada ujung utara rangkaian Bukit Barisan di Pulau Sumatera, terletak dataran tinggi Gayo yang merupakan tempat orang Gayo bermukim. Di tempat ini mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang disebut dengan orang Gayo Lut, orang Gayo Deret, orang Gayo Lues dan sebagainya. Dari orang Gayo ini muncul kesenian yang dikenal dengan nama kesenian saman. Salah satu kesenian rakyat lainnya adalah Didong, suatu bentuk kesenian yang luwes menyesuaikan diri dengan jaman dan lingkungan.


Sejak kapan kesenian Didong ini dikenal, hingga kini belum diketahui dengan pasti, demikian pula arti kata Didong yang sesungguhnya. Ada orang yang berpendapat bahwa kata “didong” mendekati pengertian kata “dendang” yang artinya” nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dalam bahasa Gayo dikenal dengan kata “denang” atau “donang” yang artinya mirip dengan hal tersebut.


Menurut legenda Gajah Putih yang dikenal di Gayo atau di Aceh pada umumnya, dikatakan untuk membangkitkan gajah yang enggan bangun dari pembaringannya dilakukan dengan cara berdendang yaitu dengan Didong. Akhirnya Didong menjadi sarana untuk menyalurkan perasaan, pikiran, keinginan dari seseorang kepada pihak lain dalam bentuk kesenian.


Kesenian Didong terwujud dari perpaduan beberapa unsur seni yaitu seni sastra, seni suara dan seni tari. Kesenian ini dapat berjalan searah dengan kebutuhan jaman. Pada suatu periode di masa lalu sering diselenggarakan pertandingan Didong yang berlangsung dengan nyanyian berteka-teki. Tema dari nyanyian teka-teki tersebut sesuai dengan keperluan, misalnya dalam upacara perkawinan, upacara mendirikan rumah, upacara makan bersama setelah panen dan sebagainya.


Grup kesenian didong biasanya terdiri dari para “Ceh” dan anggota lainnya yang disebut dengan “Penunung”. Ceh adalah orang yang dituntut memiliki bakat yang komplit dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi, yang tentunya harus mempunyai suara bagus. Penguasaan terhadap lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra yang berbeda.


Pagelaran Didong ditandai dengan penampilan dua grup pada suatu arena pertandingan. Setiap grup biasanya terdiri dari kurang lebih 30 orang. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Selama semalam suntuk grup yang bertanding akan saling mendendangkan teka teki dan menjawabnya secara bergiliran. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada.


Penampilan Didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke, Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah pemporak-porandakan bentuk kesenian Didong. Dalam keadaan demikian syair-syair Didong berubah menjadi kesan bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan kesenian Didong mulai berfungsi lagi. Didong mengobarkan semangat kegotong-royongan. Didong dapat digunakan untuk mencari dana pembangunan gedung sekolah, madrasah, mesjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Dengan demikian Didong menjadi sarana ampuh untuk pembangunan fisik.


 

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top