Sejarah kain dan kedudukan wanita di suku Rejang Lebong

Sejarah kain dan kedudukan wanita di suku Rejang Lebong
Ilustrasi
Penulis: Fariana

Beritahati.com, Bengkulu - Bukan hanya monumen ataupun candi, kain juga diterjemahkan sebagai salah satu bentuk kekhasan suatu daerah. Motif yang ditampilkan menggambarkan makna mendalam bagi masyarakat setempat, bisa tentang budaya atau norma yang berlaku di daerah tersebut. Seperti halnya warna yang mendominasi pada kain tradisional suku Rejang Lebong. Ada makna yang mendalam di balik warna hitam, cokelat, merah dan kuning yang dihadirkan.


Suku Rejang Lebong terletak di Bengkulu, Sumatera Selatan. Secara aspek ekonomi, kain merupakan hasil karya yang dapat diperjualbelikan sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya. Mereka pun masih mempercayakan warna-warna yang diperoleh dari tumbuhan dan kayu sebagai pewarna alami kain. Warna merah misalnya yang terbuat dari minyak kepahiyang berpadu kulit manis kurat (Cinnamomun Burmani BL) dan kayu sepang. Semua bahan kemudian direbus sampai mendidih. Benang yang akan diberi warna dicelupkan ke dalam air tersebut, lalu didiamkan dan diangin-anginkan selama dua malam hingga kering.


Cara yang sama juga dilakukan saat proses pewarnaan lainnya. Hanya saja yang membedakan ialah komposisi bahan pewarna dan lamanya perendaman benang. Bagi masyarakat Suku Rejang Lebong penggunaan warna alami mencerminkan kehidupan yang penuh kejujuran.


Di daerah Rejang Lebong ada beberapa warna yang sarat dengan kepercayan masyarakat pada kain tenun tertentu. Pada kain Ambin Sukariman dan Tanggo Kundu, warna hitam melambangkan persembahan untuk dewa-dewa yang menguasai bumi dan gunung. Warna merah ditujukan untuk dewa-dewa kahyangan sebagai penangkal penyakit yang datangnya dari angkasa melalui angin dan hujan. Demikian dengan warna putih dan kuning, yang masing-masing dipercaya masyarakat sebagai penangkal malapetaka yang datang dari lautan dan penolak bala bagi si bayi yang baru lahir.


Kain tenun tradisional Rejang Lebong merupakan salah satu perlengkapan hidup masyarakat yang diperoleh dari perkembangan pakaian penutup badan, setelah kulit kayu. Kain ini juga memiliki fungsi lain dalam beberapa aspek kehidupan masyarakat yaitu aspek sosial, religi dan estetika.


Ada Panjatan Doa di Sehelai Benang


Bagi wanita, kain menjadi ‘perhiasan’ kedua. Entah berfungsi sebagai penutup kepala, gendongan bayi, atau sebagai padu-padan busana yang mencerminkan nilai-nilai dan kekhasan tersendiri. Tidak semua kain tenun tradisional di Rejang Lebok dapat dipakai oleh semua wanita. Beberapa kain dibedakan secara status, fungsional hingga terselip panjatan doa yang secara khusus ditunjukan untuk wanita yang mengenakan kain tersebut. Seperti halnya kedudukan wanita yang terdeskripsikan pada kain-kain berikut:


1.Kain Semban


Kain semban sering digunakan sebagai kain penggendong bayi. Dengan tujuan si wanita dapat mengerjakan pekerjaan lain sambil mengasuh sang anak. Kain semban biasanya ditenun sebelum bayi lahir dan akan dipakai hingga usia anak menginjak 3 tahun.


2.Kain Tanggo Kundu


Kain Tanggo Kundu merupakan salah satu kain tenun tradisional khas suku Rejang Lebong yang berfungsi sebagai penyelimut bayi. Bayi yang baru lahir akan diselimuti oleh kain ini. Uniknya lagi, kain Tanggo Kundu tidak diperjualbelikan secara bebas. Kain ini dipersiapkan setelah ada tanda-tanda kehamilan bagi si wanita dan langsung minta dibuatkan oleh penenun secara personal.


3.Kain Semban Ginggang


Berbeda dengan kain-kain tradisional lainnya, Kain Semban Ginggang dapat digunakan oleh siapa saja. Secara fungsi kain ini sering digunakan sebagai alat asuh. Hanya saja yang membedakan Kain Semban Ginggang dibuat oleh para gadis yang belum menikah, ada sepotong doa yang disematkan lewat garis dan motif yang dihadirkan. Kiranya si penenun berdoa kiranya Tuhan akan memberkahi keturunan pada masa perkawinan mereka kelak.


Di samping fungsinya tersebut, Kain Semban Ginggang dapat dikenakan oleh kaum wanita, baik yang sudah menikah maupun gadis. Pemakaian kain ini tidak menunjukan perbedaan sosial. Wanita yang mengenakan kain tersebut dianggap wanita sopan di kalangan masyarakat.


4.Kain Tengkuluk Bintang


Disebut Kain Tengkuluk Bintang karena motifnya berbentuk bintang. Kain ini berfungsi sebagai penutup dada wanita dan tidak ada perbedaan sosial untuk mengenakannnya. Cara pemakaiannya cukup dililitkan saja.

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top