Pencerahan Mahfud MD buat Eggi Sudjana dan masyarakat soal Trinitas

Pencerahan Mahfud MD buat Eggi Sudjana dan masyarakat soal Trinitas

Reporter : Miechell

Beritahati.com, Jakarta - Mengutip lalu menyatukan semua tulisan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD dari beberapa media seperti viva, kompas dan detik, berikut uraiannya soal Eggi Sudjana, ormas dan konsep Trinitas.


Saya tidak mendedikasikan tulisan ini kepada Eggi Sudjana secara khusus tetapi juga kepada semuanya yang sekedar ingin tahu mengenai konsep Trinitas dalam kristen. Benarkah Umat Kristen menyembah Tiga Tuhan, lalu benarkah hal itu bertentangan dengan sila pertama dalam Pancasila.


Saya tahu Eggi Sudjana (ES) sedang sangat sibuk mengklarifikasi. Tetapi semoga saja dia mau meluangkan waktunya barang sebentar, mungkin sebelum tidur untuk membaca tulisan ini. Sangat penting agar dirinya menjadi tahu secara utuh, bukan separuhnya saja.


Tulisan ini adalah bentuk uji intelektual atas pengetahuan ES yang terbatas atas konsep Ketuhanan Yang Maha Esa.


Nah, ini yang penting. Point inilah yang menjadi dasar ucapan ES bahwa ajaran selain Islam harus dibubarkan karena bertentangan dengan Pancasila: Ketuhanan yang Maha Esa, bahwa Tuhan dalam agama kristen itu ada tiga maka bertentangan dengan Pancasila yang didefinisikan ES sebagai Tuhan yang tunggal dengan kata ESA.


“ Ketuhanan yang Maha Esa” ini tidak lantas berarti Tuhan yang satu. Bahwa setiap orang harus ber-satu Tuhan dalam agama yang harus agama monoteis. Dalam bahasa sansekerta, satu bukanlah ESA melainkan EKA. Karena Frasa Tuhan yang Maha dan Esa jika diartikan Tuhan Yang Maha Satu, kan kurang cocok, kalau mengikuti pikiran ES.


Harusnya kan Tuhan yang Maha Eka, bukan Maha ESA. Ini juga hendak menegaskan bahwa seharusnya jika titik berat pada sila pertama ini adalah Tuhan yang satu. Seharusnya sila pertama ini berbunyi “Tuhan Yang Maha Esa (EKA)”. Karena awalan ke dan akhiran an pada kata ‘Ketuhanan” memberi makna baru pada kata itu.


Kata “Maha” (sansekerta) berarti mulia dan besar. Besar ini bukan dalam satuan ukuran. Melainkan merujuk pada sesuatu yang lebih dari besaran dalam satuan ukuran. Pahamkan kalau saya sebut Tuhan Maha pengasih ? Artinya adalah kasih dari Tuhan itu tak terbatas.


ESA/Etad (sansekerta) kata itu lebih menitikberatkan pada arti keberadaan Tuhan itu sendiri. Sedangkan kata Ketuhanan diberi awalan ke- dan akhiran -an. Ini otomatis memberi makna yang baru pada kata itu yakni mengalami hal dan atau merujuk pada sifat-sifat yang berhubungan dengan Tuhan.


Jadi Ke-tuhan-an yang Maha Esa kurang lebih dapat diartikan bahwa kita harus beriman pada Tuhan yang memiliki sifat adil, baik, mulia, bijaksana. Sifat Tuhan yang Maha Mulia, Maha Agung, Maha segalanya. Serta percaya bahwa Tuhan itu ada.


Dengan percaya kepada Tuhan, penganutnya diharapkan memiliki rasa adil dan rasa kemanusiaan yang tinggi terhadap sesamanya. Jadi buat ES, Ketuhanan Yang Maha Esa ini tidak bisa merujuk pada jumlah Tuhan hanya karena kata “Esa”. Bahwa Tuhan yang disembah harus satu. Tetapi kepada beriman kepada Tuhan sehingga tidak Atheis !


Sekarang kita ke persoalan Trinitas. Ini agak berat pak ES. Jadi simak baik-baik !!


Sebenarnya konsep Trinitas ini tidak mudah dipahami. Juga oleh penganut agama Katolik itu sendiri. Mereka kadang kesulitan memahami, mencerna dan bagaimana menjelaskan Trinitas ini. Satu Tuhan dalam tiga pribadi. Nah, apalagi orang yang bukan Katolik seperti ES ? Pasti tidak paham !


Inti paling mendasar dalam beragama Katolik itu adalah iman. Ketebukaan hati dan kemauan untuk mengakui keterbatasan akal manusia sangat penting untuk dapat memahami sedikit misteri Allah.


Namun bukan berarti bahwa iman itu tidak logis atau tidak dapat diterima akal budi pikiran manusia. Demikian pula konsep Trinitas, bukan berarti konsep itu tidak masuk akal. Trinitas itu dapat dijelaskan. Namun butuh peran serta iman dalam menjelaskan-Nya. Karena Tuhan itu Maha. Tiada akal satupun manusia yang sanggup menjelaskan misteri Tuhan.


Analogi matahari mungkin bisa menjelaskan sedikit tentang konsep Trinitas ini. lihatlah Matahari yang hanya SATU, tetapi terdiri dari cahaya dan panasnya. Cahaya dan panas matahari memiliki peran (pribadi) yang berbeda. Tetapi Matahari itu tetaplah Matahari yang SATU. Bisakah kita memisahkan cahaya dari Matahari ? Atau memisahkan panas matahari dari Matahari itu ? Tentu tidak !


Kita berterima kasih kepada cahaya matahari, “ Terima kasih cahaya, berkat kamu saya bisa melihat keindahan sekeliling saya dan dunia ini ". Nah, apakah dengan berterima kasih kepada cahaya itu kita lalu menafikan, mengesampingkan matahari itu sendiri ? Tentu tidak bukan ? Berterima kasih kepada cahaya secara otomatis pula berterima kasih kepada matahari, yang telah memberikan cahayanya ke dunia ini. Ingat ini adalah analogi yang sangat sederhana dan terbatas untuk menjelaskan ke-Maha-an Allah Tritunggal.


Ajaran atau konsep Trinitas ini tidak asal muncul begitu saja. Melainkan memiliki dasar yang kokoh dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja yang disebut Dogma.


Untuk menjelaskan mengenai konsep Trinitas ini, saya akan mengutip cukup banyak dari http://www.katolisitas.org/trinitas-satu-tuhan-dalam-tiga-pribadi/. dengan tidak mengubah atau menambah kata. Silahkan mempir ke situs tersebut untuk mempelajari hal ini dengan lebih komprehensif.


“ Aku dan Bapa adalah satu ” (Yoh 10:30), “ Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (lihat Yoh 17:5). Kristus adalah sang Sabda/ Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan (Yoh 1:1-3). Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri.


“ Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebut-Nya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lihat Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lihat Yoh 14:6).”


“ Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus ini, contohnya, Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus Kristus), dan Roh Kudus adalah satu (lihat 1 Yoh 5:7), demikian juga pengajaran Petrus (lihat I Pet:1-2, II Pet 1:2) dan Paulus (lihat I Kor 1:2-10, I Kor 8:6, Ef 1:3-14), Rasul Paulus.”


Juga dari sejarah gereja, bahwa dogma tentang Tritunggal Maha Kudus “ Konsili Nicea (325) : Credo Nicea : “…Kristus itu sehakekat dengan Allah Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar …”.


Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari jaman jemaat awal jauh sebelum masehi :


1. Tritunggal adalah Allah yang satu. (Lihat KGK 253). Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allah-an seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama.


Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus. Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus. Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.


2. Ketiga Pribadi ini berbeda secara nyata satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya, yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan. (Lihat KGK 254).


3. Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah. (Lihat KGK 255).


Selain dari Kitab Suci dan Dogma gereja sebagai dasar konsep Trinitas ini, yang sekaligus pula menjelaskannya, filsafat yang sangat erat kaitannya dengan akal budi juga bisa dipakai untuk menjelaskan hal ini yaitu arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’.


Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik.


Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’).


Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.


Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia. Sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan tiga pribadi tersebut.


Dengan demikian, ketiga pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya (Lihat KGK 252.).


Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri (KGK 237.), meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia.


Namun demikian, kita dapat mulai memahaminya dengan mempelajari dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan tradisi suci yang ditetapkan oleh Magisterium (seperti hasil Konsili), juga dengan bantuan filosofi dan analogi seperti diuraikan di atas. Selanjutnya, pemahaman kita akan kehidupan Trinitas akan bertambah jika kita mengambil bagian di dalam kasih Trinitas itu, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.


Masih cukup panjang sebenarnya penjelasan mengenai konsep Trinitas ini. Butuh waktu khusus agar ES bisa mengerti. Tapi baiklah, dari tulisan singkat ini seharusnya ES menjadi dan membaca sekalian tahu bahwa kristen tidak menyembah tiga Tuhan. Umat Kristen menyembah SATU TUHAN dalam TIGA PRIBADI. Agama Kristen itu adalah Agama Monoteis. Menyembah SATU Tuhan, satu Allah. Ajarannya mengenai Trinitas adalah misteri iman yang mereka sebut dengan "iman kami".


Konsekuensi dari kristen sebagai agama yang monoteis adalah agama kristen TIDAK BERTENTANGAN DENGAN PANCASILA, seperti yang ES tuduhkan.
Saya menyadari bahwa kesalahpahaman ini lebih kepada ketidaktahuan dan ketidakmengertian ES pada konsep Trinitas.


Tidak apa-apa, umat kristen itu sudah “matang” jadi tidak mudah marah. Hal-hal begini, kesalahpahaman seperti ini sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Hanya saja sangat disayangkan hal ini terjadi mengingat bahwa ES adalah seorang pengacara/advokat, yakni sebuah profesi yang menuntut keluasan wawasan yang berbasis fakta dan data.


Dan Semoga Eggi Sudjana menjadi Paham !! Sekian dari saya.

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top