Beritahati.com, Manila - Presiden Filipina Rodrigo Duterte punya pesan untuk para penjahat di negaranya. Dia dengan tegas mencetuskan akan menembak para penjahat, termasuk para pemerkosa anak-anak dan wanita.


Selama ini, Duterte mengirimkan Kepolisian Filipina untuk membasmi para gembong narkoba dengan mengobarkan perang antinarkoba ke seluruh pelosok negeri. Cara Duterte sangat bengis, yakni menembak mati para penjahat narkotika tersebut.


Cara itu berhasil, gembong dan pengedar narkoba ketakuan, tapi Duterte beserta kepolisian Filipina dikecam sekaligus dituding melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam pembunuhan ribuan orang yang merupakan para gembong narkoba serta penjahat pemerkosa selama perang antinarkoba.


Duterte kemudian menarik polisi dari perang antinarkoba, lalu menyerahkan tugas pemberantasan kepada Badan Penegakan Narkoba Filipina (PDEA), yang hanya memiliki sekitar 2 ribu personel, jauh di bawah kepolisian yang memiliki 165 ribu personel.


Namun demikian, seperti dilansir AFP, pada Jumat (20/10) malam, Duterte mengingatkan bahwa dia bisa saja kembali menugaskan polisi untuk memerangi narkoba. Ini disampaikannya menyusul tudingan pelanggaran HAM karena membunuh para penjahat di negaranya sendiri.


Atas tudingan tersebut, Duterte membela diri dengan menyatakan bahwa dirinya tak pernah memerintahkan polisi untuk menembak para pemakai narkoba atau tersangka. Namun di lain kesempatan, dia juga mengatakan dirinya akan senang untuk membunuh mereka. Pernyataan kontroversial inilah yang kemudian membuat para aktivis HAM begitu gencar mengritik kebijakan tembak mati para pelaku narkoba.


"Para pemerkosa anak-anak dan perempuan, jika kalian tidak menginginkan polisi, saya ada di sini sekarang. Saya akan menembak kalian sendiri. Itu benar! Jika tak ada yang berani, saya yang akan menarik pelatuknya," cetus Duterte.


Bahkan Duterte juga mengatakan, dirinya tengah mempersiapkan untuk menurunkan kembali polisi dalam perang melawan narkoba dan kejahatan serius lainnya.


Menanggapi rencana Presiden Rodrigo Duterte menugaskan kembali kepolisian dalam perang melawan narkoba, juru bicara PDEA, Derrick Arnold Carreon mengakui bahwa pihaknya menghadapi perjuangan sangat sulit dalam perang melawan narkoba.


Keterbatasan personel yang dimiliki PDEA memang menjadi salah satu kendala. Oleh karena itu menurut Carreon, jika Presiden memutuskan demikian, pihaknya setuju dan siap digantikan oleh polisi.


"Kami akan menyambut itu," tandasnya.