Pembangunan infrastruktur logistik Indonesia dan peran Standard Chartered

Pembangunan infrastruktur logistik Indonesia dan peran Standard Chartered
Aldian Taloputra, Chief Economist Standard Chartered Bank Indonesia (kedua dari kanan),Irvan Noor, Head of Commercial Banking Standard Chartered Bank Indonesia (ujung kanan) - Foto : Istimewa -.
Reporter : Miechell

Beritahati.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia telah mencanangkan target pembanguan infrastruktur untuk periode 2016-2019 melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Berbagai proyek pembangunan infrastuktur difokuskan pada industri logistik dan energi, yang meliputi :


1. Konsep tol laut sebagai sarana untuk mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia dengan membangun 24 pelabuhan laut baru, meningkatkan jumlah kapal besar (kargo, kapal transportasi utama, kapal penyebrangan), serta pembangunan 60 pelabuhan penyeberangan.


2. Meningkatkan konektivitas melalui instrastruktur transportasi udara dengan membangun 15 bandar udara, membangun fasilitas kargo udara di 6 lokasi, meningkatkan jumlah armada penerbangan.


3. Pembangunan transportasi perkotaan melalui pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) di 29 kota, serta Mass Rapit Transit (MRT) di 6 kota metropolis ditambah 17 kota besar.


4. Mengurangi biaya logistik dengan meningkatkan infrastuktur kereta api dengan membangun rel kereta di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan yang mencakup 2.159 km rel kereta api antar kota dan 1.099 km rel kereta api dalam kota.


5. Meningkatkan efisiensi transportasi lewat pembangunan dan pemeliharaan jalan melalui pembangunan 2.650 km jalan baru, 1.000 km jalan tol baru, ditambah dengan merehabilitasi 46.770 km jalan yang sudah ada.

Target pembangunan infrastuktur tersebut dituangkan pula ke dalam Paket Kebijakan Ekonomi ke-15 yang berfokus pada pengembangan usaha dan daya saing penyedia jasa logistik nasional. Diperkenalkan pada 15 Juni 2017, paket kebijakan ini ditujukan untuk membentuk roadmap industri logistik guna mempercepat pengembangan usaha dan daya saing penyedia jasa logistik nasional.


Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen dari harga ritel barang, dimana 72 persen komponen terbesar dari logistik adalah biaya atau ongkos transportasi.

Pemeringkat internasional Moody’s memperkirakan Paket Kebijakan Ekonomi ke-15 ini dapat memangkas defisit transaksi berjalan Indonesia secara bertahap ke depannya, serta meningkatkan daya saing dengan merampingkan serta menyederhanakan peraturan, mengurangi biaya operasional, dan mengurangi jumlah barang terlarang.

Dukungan Standard Chartered Bank Indonesia

Standard Chartered Bank (SCB) sangat mengapresiasi keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan kualitas iklim bisnis guna menarik investasi asing ke dalam negeri. Untuk itu, Bank berkomitmen untuk memberikan bantuan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberi support terhadap program-program pemerintah, termasuk mempromosikan potensi Indonesia di luar negeri. Hal ini sesuai dengan aspirasi SCB Bank untuk menjadi bank internasional terbaik di Indonesia.


Head of Commercial Banking, Standard Chartered Bank Indonesia, Irvan Noor melalui “SCB Investment Forum Taiwan Corridor: Southbound Policy and Investment Opportunities for ASEAN, especially Indonesia” mengatakan, pihaknya terus berusaha memberikan bentuk partisipasi aktif untuk mempromosikan Indonesia ke pasar internasional, khususnya di pasar Asia maupun ASEAN. Kerja sama dengan BKPM merupakan fokus SCB Indonesia untuk membantu perusahaan investor asing agar datang dan berinvestasi di Indoneisa. Utamanya karena BKPM merupakan pintu utama bagi para investor untuk masuk ke Indonesia.


"Kami membentuk tim khusus untuk Taiwan corridor dengan dukungan relationship manager yang dapat berbicara dalam bahasa Mandarin, serta membantu para investor Taiwan untuk kebutuhan perbankan mereka, seperti pembukaan rekening, pembayaran, transaksi, dan collection," kata Noor menjelaskan.


Dengan lebih dari 1.000 kantor cabang dan outlet di 69 negara, SCB memiliki jejaring yang luas di berbagai negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, dengan fokus pada Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Sebanyak 67 persen jejaring global SCB berada pada jalur inisiatif One Belt One Road (OBOR), atau yang dikenal dengan Jalur Sutra Baru, yang digagas oleh pemerintah Cina untuk mempromosikan perdagangan bebas dan meningkatkan konektivitas antar negara di Asia, Eropa dan Afrika. Inisiatif OBOR melibatkan 63 persen populasi dunia dan 29 persen dari produk domestic bruto (PDB) global.


Kemudian, mendorong hubungan perdagangan juga merupakan salah satu agenda utama segmen bisnis Commercial Banking di SCB Indonesia. Sebagai bank dengan pengalaman lebih dari 150 tahun di Indonesia, SCB memiliki komitmen untuk membantu pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah bekerjasama dengan BKPM untuk secara aktif mempromosikan Indonesia di negara-negara dimana Bank beroperasi, untuk mendorong investasi masuk ke dalam negeri.


Bentuk upaya yang dilakukan, salah satunya, adalah dengan menyelenggarakan forum-forum pertemuan investor dengan menghadirkan lembaga-lembaga pemerintahan terkait. Selain itu, Bank juga membentuk tim ahli untuk membangun jaringan dan kerjasama bisnis internasional. Melalui Taiwan corridor, Bank mendukung pemerintah dengan menjembatani perusahaan-perusahaan Taiwan untuk meningkatkan investasi di Indonesia (baik yang sudah maupun merencanakan untuk melakukan investasi).


"SCB Indonesia yang memiliki footprints di Taiwan berkomitmen untuk membantu hal tersebut, terutama dari sisi pendanaan," tutup Noor.


Chief Economist, Standard Chartered Bank Indonesia, Aldian Taloputra membeberkan, Taiwan menduduki peringkat ke-13 dalam jumlah investasi di Indonesia. Investasi Taiwan berfokus di Pulau Jawa (58 persen), Sumatera (40 persen), dan selebihnya di daerah yang lain. Dalam hal sektor, manufaktur merupakan investasi Taiwan terbesar, dengan fokus pada industri kertas (35 persen), non-metal mineral (23 persen), dan karet (22 persen).


"Investasi Taiwan di Indonesia dapat membantu negara ini untuk perlahan-lahan bermain di level manufaktur, membawa pembiayaan, meningkatkan kapasitas SDM dan memberi dampak perkembangan teknologi," tutur Aldian menyimpulkan.

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top