1904 
Teknisi Ponsel : Impor terhambat, Kami pasti kesulitan

Teknisi Ponsel : Impor terhambat, Kami pasti kesulitan

Reporter : Miechell

Beritahati.com, Jakarta - Andrian Mursito atau akrab disapa Andri, pria asal Solo, turut hadir dalam Musyawarah Nasional (Munas) Persatuan Teknisi Ponsel Indonesia (PTPI) yang berlangsung di Solo, 11-12 November 2017. Dirinya ikut Munas karena ingin dunia tehnisi ponsel bisa lebih maju lagi dari sebelumnya.


Sejak awal 2001 menggeluti profesi sebagai teknisi ponsel, Andri sebenarnya sudah banyak membuka toko sendiri, akan tetapi belum terlalu fokus untuk usaha. Baru pada 2012 dirinya merintis toko seluler yang berkonsentrasi pada perbaikan handphone. Sejak lima tahun belakangan ini, ia sudah mempekerjakan kurang lebih lima orang tehnisi ponsel.


Apa yang mandasari Andri untuk ikut bergabung dalam PTPI adalah, ia ingin mewujudkan mimpi yang sudah lama sekali mengganggu pikirannya, yaitu melihat bagaimana profesi seorang teknisi ponsel bisa setara dengan profesi lainnya serta membawa kesejahteraan.


"Saya sudah 16 tahun jadi teknisi ponsel, itu impian saya," ujar Andri kepada Beritahati di Solo, Senin (13/11).


Dari pendapatan sehari-hari, kata Andri, teknisi ponsel sebenarnya bisa menjadi sejahtera, tapi memang butuh wadah diskusi agar tidak ketinggalan tehnologi serta lebih teratur dalam bekerja. Dirinya kemudian mencontohkan toko selusernya sendiri yang mempekerjakan 5 orang teknisi. Mereka dikejar target perbaikan antara 4-5 ponsel setiap harinya, baik itu soal software maupun hardware.


Sistem salary yang digunakan Andri adalah persentase. Misalnya biaya servis itu Rp 100 ribu, potong pembelian spare part dulu, kemudian sisanya dibagi fifty-fifty antara toko dengan teknisi bersangkutan. Kalau untuk satu kasus perbaikan seorang teknisi ponsel bisa mendapat Rp 50 ribu, jika dikalikan 5 akan mendapat angka pendapatan Rp 250 ribu per harinya. Dikalikan waktu kerja selama 26 hari dalam satu bulan, pendapatan seorang teknisi ponsel bisa mencapai Rp 6,5 juta atau setara dengan seorang karyawan bank di kawasan Sudirman, Jakarta.


Sementara itu, ketika ditanya mengenai ketersediaan spare part handphone di Indonesia, Andri mengaku punya masalah. Dia mengeluhkan, kadang spare part itu sulit dicari, penyebabnya adalah tertahannya impor bahan baku. Jadi, menurutnya apabila impor terhambat, bakal menjadi mimpi buruk bagi semua toko seluler yang berbasis servis handphone.


"Di tempat saya dan pastinya di bagian tempat lain juga pasti para teknisi ponsel menjadikan pekerjaannya sebagai mata pencaharian utama. Jadi jika ada hambatan dalam pekerjaan, akan berdampak langsung pada penghasilan harian mereka," ujarnya menjelaskan.


Ada dua opsi mengenai menjaga ketersediaan spare part handphone di Indonesia, pertama, menjaga ketersediaan barang melalui impor. Lalu opsi kedua adalah membangun industri sendiri di tanah air.

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top