Beritahati.com, Jakarta - Sejak 15 Desember 2005, dunia ikut berpartisipasi untuk merayakan International Tea Day setiap tahunnya. Awalnya perayaan ini bertujuan untuk mengangkat issue seputar para pekerja teh untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Seiring dengan waktu, dengan meningkatnya popularitas teh menjadi minuman nomor dua setelah air yang paling banyak dikonsumsi di dunia, makna dari perayaan teh pun menjadi lebih beragam dan berwarna.


Di Indonesia sendiri sebetulnya kebiasaan minum teh sudah ada sejak jaman kolonial Belanda yang kemudian diadopsi dan menyebar ke berbagai daerah dalam bentuk penyajian yang berbeda-beda. Ini selaras dengan kebiasaan dan pandangan hidup sehari-hari. Melalui 5 daerah dari berbagai sudut Nusantara, femina berbagi keseruan dan keunikan tentang bagaimana mereka memaknai sebuah proses, tradisi dan perbedaan dalam secangkir teh. Selamat menikmati!

Teh Nasgitel di Solo
Penduduk Solo dipengaruhi oleh pandangan hidup yang berakar pada dua budaya yaitu Eropa dan Jawa. Kebiasaan berkumpul di beranda rumah dan menjamu para tamu dengan suguhan yang manis dianggap sebagai suatu bentuk kesopanan dibandingkan hanya sekedar air putih. Tak heran teh hitam dengan penyajian NASGITEL (panas, legit/manis dan kentel (kental) menjadi sebuah minuman wajib bagi orang-orang Jawa sampai saat ini.

Teh Poci di Tegal
Berbeda dengan Solo, di Tegal ada tradisi minum teh yang dilakukan secara turun menurun yang bernama teh Poci. Biasanya menggunakan teh hitam beraroma melati yang disajikan dalam sebuah poci dengan tambahan gula batu yang dibiarkan hingga meleleh sendiri. Saat menikmati teh ini yang pertama kali terasa adalah rasa sepat atau pahit baru kemudian muncul rasa manis. Rupanya proses penyajian ini juga memiliki nilai falsafah tersendiri, yaitu hidup terkadang pahit tetapi jika dijalani dengan sabar akan mendapatkan manisnya di kemudian.

Teh Nyaneut di Garut
Tradisi minum teh menjadi kebiasaan warga Garut dan sekitarnya untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya udara di kaki gunung Cikurai. Proses penyajian teh ini tergolong unik dan tradisional, karena airnya dimasak terlebih dahulu di anglo/tungku lalu baru dipindahkan ke poci tanah liat untuk dicampur dengan teh awur khusus yang bernama Teh Kejek, teh lokal khas dari Garut. Cara meminumnya pun memiliki ritualnya sendiri, yaitu gelas diputar di telapak tangan sebanyak 2 kali dan aroma teh dihirup 3 kali baru teh diseruput, untuk memaknai segala sesuatu yang berasal dari alam.

Teh Talua di Padang
Sensasi keunikan penyajian teh dapat juga dinikmati di daerah Padang, Sumatra Barat. Pada saat proses penyeduhannya ditambahkan dengan telur mentah, khusus bagian kuningnya. Untuk menambah kenikmatan biasanya mereka menggunakan teh hitam beraroma vanilla dan jeruk nipis untuk menghilangkan rasa amis dan menambah kesegaran pada rasa. Konon kabarnya masyarakat Minang yang mayoritas beraktivitas sebagai petani menjadikan minuman ini sebagai penambah stamina, sehingga biasanya teh talua diminum sebelum dan sepulang kerja.

Teh Tarik di Aceh
Minuman khas Melayu ini, sangat terkenal di Aceh dan keunikan penyajiannya menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner sampai saat ini. Teh Tarik dibuat dari campuran teh hitam dan susu kental manis. Nama ‘tarik’ berasal dari proses pembuatannya yang seolah seperti ditarik secara bergantian dari dua gelas yang berbeda sampai menyatu dan menghasilkan busa di bagian permukaannya. Minuman teh ini mudah ditemukan dimana-mana, karena sudah menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakatnya dan dianggap sebagai perekat persaudaraan.