Beritahati.com,Jakarta - Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Halim Pagarra Polisi menegaskan, bahwa larangan motor melintas di MH. Thamrin, Jakarta Pusat sampai saat ini masih berlaku meski Peraturan Gubernur (Pergub) larangan motor era Ahok itu dicabut Mahkamah Agung.


Dengan begitu, kata Halim, para pengandara motor masih dilarang untuk melintas di kawasaan tersebut. Jika nantinya ada masyarakat yang nekat nyelonong, maka pihaknya pun tak akan segan-segan memberlakukan tindakan tegas.

“Ya tilang,” tegasnya di Jakarta, Selasa (9/1).


Halim menjelaskan, pihaknya masih harus berkoordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta lebih dulu berkenaan dengan hal tersebut. Namun, Halim belum bisa memastikan, kapan motor benar-benar bisa melintas di kawasan itu.


Karena itu, ia meminta kepada masyarakat untuk bersabar menunggu hasil koordinasi Polda Metro Jaya dengan Pemprov DKI Jakarta.


“Pelarangan motor ada di wilayah kerja gubernur dan dinas (Dinas Perhubungan, red). Jadi harus didiskusikan kembali,” jelasnya.


Halim menyebut, pihaknya bakal bertemu dengan Dishub pada Jumat (12/1) mendatang.


Dalam pertemuan itu, bukan hanya larangan bermotor di Jalan Sudirman yang bakal dibicarakan.


Tapi, ada juga masalah lainnya. Salah satunya yaitu lalu lintas di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.


“Jumat nanti ada forum lalu lintas angkutan jalan,” imbuhnya.


Sebelumnya, MA membatalkan Pergub DKI Jakarta Nomor 195 Tahun 2014 tentang Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor juncto Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 141 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Nomor 195 Tahun 2014 tentang Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Moto di Jalan MH Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat.


Putusan tersebut tertuang dalam Putusan MA Nomor 57 P/HUM/2017.


Dalam putusan itu, MA mengabulkan permohonan Yuliansah Hamid dan Diki Iskandar untuk membatalkan Pergub itu.


Majelis hakim yang dipimpin Irfan Fachruddin menyatakan aturan tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.


Sementara, pakar tata kota dan transportasi publik Luluk Erningsari mengaku kaget dengan kabar itu. Dia mengatakan, justru hal tersebut adalah kemunduran bagi tata transportasi Jakarta.


"Harusnya berlomba-lomba mengurangi kendaraan. Ini malah memberikan ruang lebar bagi kendaraan," ujarnya.


Alumnus The University of Tokyo itu mengungkapkan, jika motor kembali melintas, lalu lintas dipastikan bakal macet kembali. Menurut dia, volume kendaraan harus ditekan.


"Kita lihat, apakah hal tersebut memberikan dampak positif?," pungkas Luluk.