Beritahati.com, Jakarta - Kondisi Brigadir Rizal Taufik, anggota Sat Reskrim Narkoba Polres Jakarta Barat yang dianiaya bandar sabu sudah membaik. Namun hingga saat ini Taufik masih harus menjalani perawatan hingga pemulihan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.


Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKBP Suhermanto mengatakan, kondisi terkini Brigadir Taufik sudah bisa diajak berkomunikasi dan mulai mengonsumsi makanan.


"Saat ini sudah komunikasi, sudah mulai makan. Dan sudah dari kemarin dipindah dari ICU ke ruang rawat," ujar Suhermanto saat dikonfirmasi, Kamis (11/1).


Selama di ruang perawatan, Brigadir Rizal ditemani oleh istrinya Ega Wahyuningsih bersama buah hatinya yang masih berusia 17 bulan. Setelah menjalani operasi dan serangkaian perawatan medis, kehadiran keluarga adalah kekuatan utama untuk kesembuhan Taufik.


Dimata Suhermanto, sama seperti anak buahnya yang lain, sosok Brigadir Taufik adalah polisi muda yang berani, tekun dalam bekerja, rajin dan ulet di lapangan. Pergaulan Taufik dengan sesama rekan anggota di kantornya juga terbilang bagus.


Sebelum insiden yang menimpa Taufik, ada beberapa kejadian serupa dimana petugas kepolisian Polres Jakarta Barat mengalami luka bahkan meninggal dunia dalam operasi penangkapan.


Salah satu contoh, saat operasi penggerebekan narkoba pada Januari 2016 di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bandar narkoba yang hendak diringkus melakukan perlawanan dengan menembakkan senjata api secara membabi-buta.


"Peluru menembus dada kanan Briptu Aris Dinanta hingga meninggal dunia, sedangkan Iptu Supriyatin harus mendapat perawatan akibat luka tembak di lengan kanan," kenang Kapolres Metro Jakarta Barat Hengki Haryadi.


Operasi penangkapan di Tanjung Priok itu masih membekas dalam ingatan setiap anggota Polres Jakarta Barat terutama yang bertugas saat itu dimanapun penempatan mereka sekarang.


Dan sebagai penghormatan besar serta pengingat akan Aris Dinata, namanya diabadikan menjadi nama ruang rapat di Polres Metro Jakarta Barat.


Hengki menilai, perjuangan anggota yang terluka atau meninggal dunia adalah pahlawan masyarakat. Keberanian dan keikhlasan mempertaruhkan nyawa tidak bisa digantikan dengan apapun.


Khusus untuk pemberantasan narkoba, Hengki berpendapat, polisi dengan segala kemampuan serta daya upaya, tetap butuh bantuan masyarakat. Sinergi penjagaan wilayah dari masyarakat agar bebas narkoba adalah sangat penting. Para kepala lingkungan hingga tokoh masyarakat setempat harus waspada serta tidak jemu mengingatkan warganya betapa narkoba ini begitu merusak generasi dan moral anak-anak bangsa.


"Untuk mencapai keberhasilan pemberantasan narkoba, polisi tidak bisa kerja sendirian. Itulah mengapa kita perlu juga bantuan dari masyarakat," tandas Hengki.