Panglima TNI tegaskan Tri Matra Terpadu kawasan Natuna dan kesejahteraan prajurit

Panglima TNI tegaskan Tri Matra Terpadu kawasan Natuna dan kesejahteraan prajurit
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri), Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (kanan) - Foto : Istimewa -
Reporter : Alimin

Beritahati.com, Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus siap dengan proyeksi-proyeksi kegiatan yang akan dilaksanakan menghadapi tahun ini yang penuh tantangan. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian semua pihak, sehingga berbagai hal yang akan terjadi dapat diantisipasi dengan baik.


Hal tersebut dikatakan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dihadapan peserta Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan (Rapim Kemhan RI) 2018 bertajuk “Memperkuat Sinergitas Kelembagaan Guna Mendukung Postur Pertahanan Yang Tangguh Melalui Profesionalisme TNI, Pengembangan Industri Pertahanan Serta Kekuatan Rakyat Yang Memiliki Semangat Bela Negara”.


Ditambah lagi pada 2018 ini bakal penuh dinamika berkenaan tahun politik, Hadi menyerukan perak aktif dalam balutan sinergi kuat untuk menghadapinya.


“Peran aktif TNI di tahun politik adalah menjaga stabilitas keamanan, agar dapat berjalan aman, lancar dan sukses,” tegasnya di Gedung A.H Nasution, Kemhan RI, Jakarta Pusat, Kamis (11/1).


Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI juga menyampaikan bahwa salah satu implementasi dari pengembangan gagasan konsep Tri Matra Terpadu adalah pembangunan pulau-pulau terluar strategis, dengan prioritas pertama adalah Pulau Natuna.


“Target pembangunan pulau terluar strategis selanjutnya adalah Saumlaki/Selaru, dimana saat ini sedang dalam proses survei dan sinkronisasi dengan Pemda setempat,” ujarnya.


Di sisi lain, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyampaikan bahwa perlu diperhatikan peningkatan kesejahteraan prajurit melalui pengadaan rumah dinas. Dimanapun prajurit tinggal atau ditugaskan, harus mendapatkan tempat tinggal yang layak.



“Semua itu dilakukan untuk memperkuat jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional,” katanya.


Untuk pemenuhan kebutuhan alat utama sistem pertahanan (alutsista), tahun ini TNI mulai kedatangan persenjataan yang memang sudah dipesannya berdasarkan Renstra kedua periode 2014-2019.


“Kemarin TNI baru saja menerima alutsista untuk kebutuhan TNI AD yaitu 3 unit Helikopter Serang AS555AP Fennec, dimana sebelumnya sudah menerima 6 Heli. Dengan demikian sudah ada 9 dari 12 Heli Tempur, tinggal 3 Heli lagi. Sedangkan untuk TNI AL sudah datang 3 alutsista udara, yakni 1 unit Pesawat Udara CN 235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) dan 2 unit Helikopter AS565 MBe Panther Anti Kapal Selam (AKS),” jelasnya.


Sedangkan untuk pengganti Pesawat Tempur F-5E Tiger yang sudah tidak laik terbang selama satu setengah tahun belakangan ini, bakal datang 11 pengganti lengkap dengan persenjataan termasuk simulatornya.


“Penambahan lain adalah Radar Ground-Controlled Interception (GCI) yang sekarang ini baru berjumlah 20 unit. Ke depan kita mengharapkan penambahan 12 lagi, sehingga totalnya 32 Radar agar bisa meng-cover seluruh wilayah Indonesia,” imbuhnya.


Terkait Flight Information Region (FIR), Panglima TNI menjelaskan bahwa FIR menjadi perhatian serius dan sampai saat ini lintas Kementerian terus berusaha untuk merealisasikan keinginan dari pemerintah supaya FIR ini segera diambil alih, karena FIR dipandang dari dua sisi yaitu tentang keselamatan penerbangan dan kedaulatan negara.


“Kita berupaya terus mendorong dan membantu pemerintah, dalam hal ini Kemenhub dan Kemenlu untuk bekerjasama dengan Kemenhan untuk segera menyusun langkah-langkah mengambil alih FIR sesuai dengan hukum yang berlaku,” tutupnya.

   

Populer

Pilihan

Ikuti Berita

Back to Top