Beritahati.com, Surabaya - Perseteruan La Nyalla Mattalitti versus Gerindra makin memanas. Keduanya saling serang dengan membongkar aib masing-masing.


Perseteruan tersebut dipicu oleh pernyataan La Nyalla Mahmud Mattalitti, yang menyebut kekecawaannya setelah gagal maju sebagai calon gubernur di Pilgub Jawa Timur 2018 akibat dipatok 'mahar' politik sebesar Rp 170 miliar oleh Gerindra.


Mahar itu disebut La Nyalla diperuntukkan ‘membeli’ surat rekomendasi dan dukungan Partai Gerindra kepada dirinya untuk maju di Pilgub Jawa Timur 2018.


Dalam pernyataannya, Ketua Kamar Dagang Indonesia Jatim itu menyebut dimintai Rp170 miliar oleh Ketua DPD Gerindra Jatim, Supriyanto dengan alasan dana pencalonan.


Selain itu, kader Gerindra itu juga menyebut dimintai sendiri oleh Prabowo Rp 40 miliar untuk surat rekomandasi.


Kepada awak media, mantan Ketua Umum PSSI itu mengaku kecewa berat dengan Gerindra yang sudah ia bela sepanjang 2009-2014.


“Saya sudah berjuang 2009-2014 kibarkan bendera Gerindra di Jatim. Balasannya, dia sia-siakan saya. Berarti dia tidak mau sama saya, saya pun tidak canggung sama dia,” ujar La Nyalla kepada wartawan di kawaswan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (11/1).


Uang itu disebutnya menjadi syarat jika ia ingin mendapatkan tiket pencalonan maju di Jatim dengan dukungan dari Gerindra. Permintaan tersebut disampaikan Supriyanto pada medio Desember 2017.


Menanggapi tudingan La Nyalla, Supriyanto membantah keras pernyataan La Nyalla itu.


Supriyanto menjelaskan, uang Rp 170 miliar dimaksud justru berasal dari perjanjian yang diajukan La Nyalla sendiri kepada Prabowo Subianto.


Keseluruhan dana itu nantinya akan digunakan La Nyalla untuk pemenangan dalam Pilgub Jatim 2018.


“Mana ada zaman sekarang kami minta mahar Rp 170 M, Masya Allah. Itu kan biaya pemenangan beliau yang dia janjikan kepada Pak Prabowo,” terang Supriyanto, Jumat (12/1).


Supriyanto juga membantah, gagalnya La Nyalla maju menjadi cagub di Pigub Jatim 2018 dikarenakan perbuatannya sendiri.


Menurutnya, La Nyalla tidak bisa mendapatkan dukungan dari partai politik manapun.


Malah, partai berlambang kepala garuda itu sudah memberikan kesempatan untuk mencari parpol yang bisa mengusungnya.


Namun, keputusan itu kandas ketika mengetahui partai Demokrat dan PAN lebih tertarik mengusung Khofifah-Emil.


"Justru partai Gerindra satu-satunya yang memberikan kesempatan dia untuk maju. Tapi kan tidak ada dukungan,” bebernya.


Malah ia balik menantang kader senior Gerindra itu yang mengaku memiliki bukti dan rekaman atas pernyataannya tersebut.


Caranya, dengan membuka secara gamblang kepada publik. Bukan membukanya sebagian kepada awak media setelah lebih dulu melalui proses pemotongan isi rekaman.


“Jadi itu rekaman harusnya dibuka lebar. Jangan di potong-potong. Maka nya saya minta sama yang merekam itu dibuka semuanya,” tantangnya.