Beritahati.com, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, menilai permohonan terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP, Setya Novanto untuk menjadi justice collaborator (JC) karena mengikuti jejak Muhammad Nazaruddin.


“Dugaan saya, SN (Setya Novanto) ingin mengikuti rute Nazaruddin yang sukses menjadi JC dan akhirnya dituntut ‘bersahabat’ atau masa-masa narapidananya diperpendek,” kata Fahri seperti dikutip melalui cuitannya diakun twitternya di @Fahrihamzah, Jumat (12/1).


Sebagai buktinya, kata politisi PKS itu, meski Nazaruddin memiliki 162 kasus, tetapi mulai bebas dan dipakai KPK untuk mengamankan dan menjerat sejumlah pihak yang diinginkan. Bahkan, ada kesan kalau lembaga antirasuah itu menutup-nutupi ‘pohon uang’ Nazar, agar yang bersangkutan bicara apa saja


“Yang penting jangan sentuh keluarga si dia…. Ingat, Nazaruddin punya banyak kasus, tapi paling cepat keluar dari Rumah Tahanan Sukamiskin,” ucapnya.


Menurut Fahri, hal demikian sesuatu yang tentu juga dirindukan oleh setiap orang. Dalam persekongkolan itu, lanjut Fahri, tugas Nazar hanya ‘berbunyi’ dan ‘diam’.


“Berbunyi tentang satu kelompok dan diam tentang satu kelompok lainnya. Bahkan, Anggota @DPR_RI paling banyak dibunyikan. Dan (Nazar) sukses membungkam banyak orang. Maka merajalela segala kezaliman. Nazar aman,” ungkapnya.


Menurut Fahri, apabila permohonan Novanto menjadi JC dikabulkan, ia khawatir 14 nama yang disebut telah mengembalikan uang kasus e-KTP justru lolos. Hal itu dikarenakan KPK sibuk mengejar nama-nama baru yang kemungkinan akan disebut Novanto.


“Padahal, kepentingan publik adalah tegaknya hukum dan kembalinya uang negara. Soal persilatan lawyer dan KPK itu sandiwara kalian. Faktanya 14 pengembalian uang tidak diproses dan kerugian negara tidak dihitung BPK dan BPKP,” tegasnya.


Diketahui, KPK telah menerbitkan surat secara diam-diam kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas 1A Sukamiskin. Surat No. 437/26/XI/2017 tanggal 17 November 2017 itu perihal keterangan tidak ada perkara lain atas nama Muhammad Nazaruddin.