Beritahati.com, Jakarta - Forum Stovia dan Dokter Bhinneka Tunggal Ika Indonesia mengadakan acara Diskusi Kebangsaan Biologi Politik bertajuk "Politik Dari Sudut Pandang Kedokteran" , yang rencananya berlangsung Minggu, 14 Januari 2018, di Museum Kebangkitan Nasional (Gedung Stovia) Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 26 Jakarta Pusat.


Akan tampil sebagai pembicara adalah politisi Budiman Sudjatmiko, kemudian para praktisi bidang kedokteran, ahli biologis dan ilmu saraf, seperti Prof Daldyono, Dr Ryu Hasan SpBS, serta Dr Dharmawan. Dan sebagai keynote speaker dipegang oleh Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Sidarto Danusubroto.


Manusia dan Politik di Indonesia


Persoalan politik itu terlalu besar kalau sekedar dibicarakan di kalangan politisi. Terlalu penting jika hanya dibicarakan kalangan pengamat politik. Karena politik itu adalah persoalan banyak orang dan banyak bangsa.


Para dokter, ahli biologis dan ahli ilmu saraf mau berbicara politik, itu sebuah terobosan. Ini bukti jika politik harus dikembalikan sebagai fitrah dan kiprah manusia itu sendiri.


Manusia adalah makhluk hidup yang berpikir dan punya rasa atau sense. Dan otak adalah alat utama manusia untuk melakukan dua hal tersebut. Jadi sebetulnya, ketika orang berpikir politik, ketika dia menjadi ekstrim, moderat, atau apapun, itu adalah hasil kerja sistem otak dan saraf manusia.


Apa yang terjadi dengan otak mereka? Apa yang bekerja di dalam otak mereka? Apa yang bekerja di dalam sistem saraf manusia, sehingga kemudian ada seseorang yang memilih untuk menjadi radikal, moderat, atau bunuh diri. Itulah dasar pemikiran awal untuk membaca bagaimana manusia itu bisa mengambil sikap politik.


Ada yang mengatakan, itu akibat faktor informasi, ajaran tertentu dan faktor lingkungan. Jika hanya sebatas faktor-faktor tersebut saja, lalu apa bedanya manusia dengan benda batu atau hewan kambing.


Jika ditaruh sebuah batu kemudian berikan dia radio, atau informasi apapun, batu itu tidak akan menjadi apa-apa. Batu tidak akan melakukan politik atau apapun, karena dia benda mati.


Kemudian hewan kambing. Jika diperdengarkan pidato, diberikan informasi, tentunya juga tidak akan melakukan apa-apa karena tidak ada struktur otak atau saraf yang mengatur pikiran serta rasa.


Berbeda dengan manusia, jika mendapat informasi, entah ditolak atau menerima, itu nantinya akan memunculkan sikap politik.


"Itu yang membedakan antara manusia, batu dan kambing dalam menerima informasi. Manusia mempunyai struktur atau sistem otak serta saraf yang bisa merespon dan mengembangkan sebuah informasi dengan tingkat pengetahuannya masing-masing, kemudian menentukan sikap politik," ujar politisi Budiman Sudjatmiko ketika ditemui di kawasan Cikini, Sabtu (13/1) malam.


Itu artinya, manusia dengan struktur otak yang dimilikinya akan mengambil keputusan, sikap politik, atau apapun berdasarkan terpaan informasi yang didengar, dilihat, sampai dirasakannya.


Para ahli biologis dan para dokter adalah mereka yang bisa memecahkan kenapa ada perbedaan antara manusia, batu dan hewan kambing. Sehingga mereka juga yang akan membedah bagaimana kerja saraf serta otak manusia hingga muncul sikap-sikap politik tertentu.


"Melalui acara diskusi ini, kita bisa tahu dari para dokter dan ahli saraf ini tentang bagaimana seseorang itu bisa punya sikap politik tertentu. Sekaligus bisa diketahui pula, bagaimana kontribusi mereka untuk mengatasi agar seorang manusia tidak terpengaruh hal yang aneh-aneh dalam sikap politik," sambung Budiman.


Keadaan Politik Indonesia dan Tumbuhnya Radikalisme


Keadaan perpolitikan Indonesia saat ini berada di tingkatan yang sangat buruk. Mirisnya, benih-benih atau cikal bakal memburuknya perpolitikan di Indonesia sudah ada sejak lama, bahkan mulai era Orde Baru (Orba).


Masa Orba dengan politik yang sangat diktator berhasil dimentahkan pergolakan reformasi pada 1998. Dalam periode ini, radikalisme atau apapun itu yang mengancam persatuan dan kesatuan bisa ditekan sedemikian rupa hingga tidak bisa berkembang. Jangankan untuk berkembang, bergerak saja tidak bisa. Dan ini adalah sistem politik yang buruk jika dibandingkan dengan perkembangan demokrasi di dunia.


Kemudian masuk zaman peralihan, di masa pemerintahan Presiden BJ Habibie. Di sini benih radikalisme mulai bergerak sedikit demi sedikit di luar pantauan negara. Mereka yang terkekang selama pemerintahan Orde Baru akhirnya merdeka dan mulai menyusun kekuatan.


Artinya dari sistem yang buruk era Orba, malah muncul hal-hal yang tidak diinginkan, sehingga perlahan mulai jalan mundur. Ibarat racun, mulai muncul dan menyebar di tubuh negara dan bangsa Indonesia secara perlahan, hingga masuk ke tatanan perpolitikan.


Masuk era pemerintahan pasca reformasi selepas masa peralihan tersebut, di zaman pemerintahan Gus Dur, pertumbuhan radikalisme masih bisa ditekan. Dilanjutkan periode Megawati Soekarnoputri, radikalisme terus ditekan. Namun seperti dikatakan sebelumnya, tetap benih-benih itu mulai ditebar tanpa sepengetahuan negara.


Benih mulai tumbuh ketika masuk era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Selama sepuluh tahun masa pemerintahannya, benih-benih radikalisme berhasil tumbuh akibat terjadi pembiaran dengan alasan menghindari kegaduhan.


Sampai kemudian era pemerintahan Joko Widodo inilah, benih radikalisme sudah tumbuh menjadi sebuah pohon yang rindang, lengkap dengan akar-akarnya.


"Sama dengan istilahnya bakteri dalam ilmu kedokteran, radikalisme mulai berkembang biak, dan Jokowi yang harus membersihkannya," imbuh Budiman melanjutkan.


Kenapa keadaan perpolitikan di Indonesia dikatakan parah? karena radikalisme itu dijadikan tunggangan untuk sebuah kekuasaan. Menurut Budiman, karena tidak mampu merumuskan program dengan platform yang baik, akhirnya mereka berjualan radikalisme. Karena memang komoditas bernama radikalisme itu yang paling murah. Sehingga disitulah masalahnya kenapa perpolitikan Indonesia semakin buruk.


Menyikapi hal tersebut, pengamat politik angkat bicara. Disusul pernyataan-pernyataan dari pakar politik, bahwa keadaan harus diperbaiki. Namun tidak bisa semudah itu, karena benih yang tumbuh pasca reformasi, ditambah pembiaran selama 10 tahun, radikalisme semakin tumbuh menjadi pohon dengan akar yang mulai menjalar kemana-mana. Sehingga bukan perkara mudah untuk memperbaikinya.


Ilmu Pengatahuan Ikut Memberikan Solusi


Komunitas science yang terdiri dari praktisi seperti dokter, ahli biologis, serta ahli saraf manusia, mendapat giliran menyumbangkan pemikiran tentang bagaimana memperbaiki keadaan perpolitikan di Indonesia, dipandang dari sisi ilmu pengatahuan serta kajian-kajian terukur.


Metodenya adalah, kembali kepada diri atau manusia sebagai pelaku politik itu sendiri. Bagaimana membedakan benda batu, hewan kambing dan manusia. Setelah membedakan ketiganya, kemudian menemukan bahwa manusia merupakan satu-satunya ciptaan Tuhan dengan sistem otak yang bisa merespon lalu menentukan sikap politik akibat terpaan informasi.


Terakhir, para praktisi juga akan coba menyumbangkan pemikiran bagaimana mengatasi sikap politik manusia yang salah jalan, tidak pada tempat atau porsinya, atau mengarah kepada radikalisme.


Golongan praktisi ilmu kedokteran seperti dokter, ahli biologis maupun ahli saraf manusia ini nantinya akan memberikan dimensi lain kepada politisi untuk mengambil keputusan atau langkah-langkah yang harus diambil untuk memperbaiki keadaan perpolitikan Indonesia yang berjalan mundur akibat radikalisme.


Namun demikian, Budiman Sudjatmiko mengingatkan, perbaikan yang akan dilakukan ini hasilnya bisa beragam. Harapan positifnya adalah keadaan menjadi normal kembali, dimana fitrah kebangsaan yang Pancasilais, Bhinneka Tunggal Ika, serta mempertahankan keutuhan NKRI, ditegakkan kembali.


Hasil lainnya dalam mengentaskan radikalisme itu nantinya bisa juga menimbulkan dampak misalnya seperti pecah perang terbuka di Suriah, atau bermain mata dengan intelijen seperti di Pakistan, atau bisa juga diam-diam kemudian beranak pinak dan memenangi Pemilu seperti di Turki.


Pertanda itu sudah ada dengan pengajuan kader-kader untuk masuk Pilkada, anggota legislatif, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal yang ada di Indonesia sekarang ini.


"Apapun dampaknya, antisipasi untuk melawan radikalisme tetap harus dilakukan. Karena kalau kita diam saja, pasti hancur. Dari politisi sampai praktisi seperti dokter, ahli biologis dan ahli saraf, artinya kita semua, sebenarnya bukan hanya memikirkan negara ini, tapi juga anak-anak kita sebagai bagian dari generasi penerus bangsa Indonesia. Bagaimana pergaulan mereka nantinya jika paham-paham radikalisme beredar di semua tempat? Itu salah satu pertimbangan kenapa semua pihak harus bersinergi memberikan solusi," tandasnya.


Jika ingin anak-anak atau generasi penerus bangsa ini hidup di Indonesia, artinya harus menghargai sesamanya dalam toleransi akan kemajemukan bangsa Indonesia dari suku, agama, ras, serta kebudayaan yang dimiliki.