Beritahati.com, Jakarta - Pembangunan Gedung Kemala Hikmah, Kantor Bid Kum dan Bid Dokkes Polda Bali serta Kantor Bhayangkari Pengurus Daerah Bali telah usai dikerjakan. Sebelum peresmian, Polda Bali menggelar Upacara Melaspas, bertempat di Mapolda Bali, Jumat (9/2/2018).


Acara yang dimulai pukul 11.00 WITA ini dihadiri oleh Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose bersama Ketua Bhayangkari Daerah Bali, Barbara Golose, Wakil Ketua Bhayangkari Daerah Bali Ayu Alit Widana, Pejabat Utama Polda Bali dan Pengurus Bhayangkari Daerah Bali.


Pada kesempatan tersebut, Kapolda Bali beserta Ketua Bhayangkari Daerah Bali dan seluruh personel yang hadir, melaksanakan persembahyangan bersama yang dipimpin (dipuput) oleh Ida Pedanda Putra Bajing dan Ida Pedanda Buda Gde Jelantik Gunung Sari Ubud Gianyar.


Melaspas secara filosofis adalah ritual yang bertujuan untuk menyatukan unsur yang berbeda secara niskala.



Kapolda Bali Petrus Golose menyampaikan, Upacara Melaspas ini digelar bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan bangunan baru secara niskala sebelum digunakan atau ditempati. Selain itu, upacara ini juga dilakukan dengan tujuan agar saat menempati merasa aman, tentram, betah dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.


“Upacara ini dilaksanakan sebagai tanda puji syukur atas rampungnya pembangunan gedung baru Polda Bali. Dengan gedung baru ini, saya berharap dapat meningkatkan kinerja Bid Kum, Bid Dokkes maupun Bhayangkari Daerah Bali dalam melaksanakan tugas-tugasnya,” tandasnya.


Budaya Melaspas Masyarakat Bali


Dalam agama Hindu di Bali pada khususnya, ada banyak tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun. Seperti halnya tradisi Melaspas, yang dilakukan ketika selesai membangun rumah, kantor, rumah ibadah dan sejenisnya. Bahkan sebuah kandang juga bisa diadakan Upacara Melaspas.



Melaspas dalam bahasa Bali terdiri dari dua suku kata, Mlas, artinya Pisah dan Pas artinya Cocok, sehingga penjabaran arti Melaspas adalah 'Sebuah bangunan dibuat terdiri dari unsur yang berbeda, ada kayu ada pula tanah (bata) dan batu, kemudian disatukan, lalu terbentuklah bangunan yang layak (cocok) untuk ditempati.


Upacara melaspas bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan benda ataupun bangunan baru secara niskala sebelum digunakan atau ditempati, agar tercipta ketenangan dan kedamaian bagi anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut serta terhindar dari hal-hal yang tidak diiginkan.


Tingkatan upacara melaspas, seperti halnya upacara-upacara lainnya yaitu:


Kanista, upacara yang dilakukan paling sederhana
Madya, Upacara yang dilakukan tergolong sedang.
Utama, Upacara yang dilakukan tergolong besar.


Sebelumnya dilakukan upacara Melaspas, yang dilakukan terlebih dahulu adalah Mecaru, dengan urutan :


1. Nedunang Bhutakala /Mengundang sang Bhutakala
2. Menghaturkan Labaan
3. Mengembalikan ketempatnya masing-masing atau mengembalikan berbagai roh yang tadinya tinggal atau mendiami bangunan tersebut ke tempat asalnya. Kemudian menghadirkan Dewa Ghana yang diyakini sebagai Dewa Rintangan artinya untuk menghalangi hadirnya roh-roh pengganggu (jahat).


Dapat disimpulkan, Upacara Melaspas sama dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Yang Maha Kuasa dan Maha Esa) agar senantiasa memberikan perlindungan dan keselamatan pada bangunan yang akan ditempati agar mereka yang nanti menempatinya terhindar dari segala hal negatif yang berniat tidak baik.