Beritahati.com, Jakarta - Dalam Diskusi & Kopdar Kebangsaan 'Aku, Kamu & Dia Untuk Indonesia' yang diadakan oleh elemen Tolak Radikalisme (TOR) didukung Federasi Indonesia Bersatu (FIBER) pada 30 Januari 2018 silam, Tausyah yang dibawakan salah satu tokoh Banser NU sejak era KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur) dan Pemimpin Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Nuril Arifin Husein atau karib disapa Gus Nuril, disebutkan bahwa Tuhan adalah satu dan menciptakan manusia dalam bentuk, warna dan keyakinan berbeda untuk hidup dalam satu kesatuan.


Dan selama ini Indonesia berhasil menjalankan hal itu berpayung Pancasila dan dalam satu kesatuan yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, belakangan ada paham keagamaan sesat yang berasal dari luar negeri dan mirisnya, dijejali kepada sebagian kecil penduduk Indonesia untuk dijadikan pegangan hidup hingga merusak tatanan sosial yang terbangun selama ini. Paham keagamaan sesat itu adalah radikalisme.


"Yang membuat perbedaan adalah fanatisme dan kebodohan manusia," kata Gus Nuril saat dikonfirmasi, Minggu (11/2/2018).


Menurutnya, masalah terbesar yg dihadapi bangsa ini adalah fanatisme agama, yang melahirkan pikiran-pikiran picik & primitif didasarkan dari pemahaman dangkal atas teks-teks suci.


Menurutnya, gerakan pemikiran ekstrim beragama ini adalah barang baru, karena dulunya sejak era Bung Karno hingga Soeharto sekalipun, belum ada radikalisme seperti saat ini.


Ironisnya, era reformasi menurut Gus Nuril, ikut membuka jalan tumbuh suburnya radikalisme di Indonesia.


"Sebelum era reformasi, tidak ada yang mengharam-haramkan ucapan selamat Natal, sebelum era reformasi tidak ada yang berkoar-koar khilafah syariah untuk menggantikan Pancasila dan NKRI, dan sebelum era reformasi juga tidak ada yang dengan sengaja mengharamkan upacara bendera sekaligus hormat bendera," tuturnya melanjutkan.


Dengan begitu, menurutnya adalah sesuatu yang absurd jika masih ada yang ngotot menyebutkan bahwa apa yang diajarkan oleh paham radikal adalah ajaran Agama Islam.


"Apa alasannya ngotot bahwa itu ajaran islam? Sebelum era reformasi saja belum ada kok," imbuhnya.


Nahdlatu Ulama (NU) hingga saat ini tetap konsisten dengan prinsip keislaman yang "Tawassuth" (Moderat), sehingga menurut Gus Nuril, otomatis bakal head to head atau berhadapan langsung dengan 'anak-anak ingusan' radikal yang baru saja mempelajari Islam dan salah jalan.


"Baru belajar Islam kemarin sore, tapi sudah take over atau ambil alih hak prerogatif Allah SWT hingga bisa menentukan siapa saja yang kafir, siapa yang munafik dan siapa saja manusia yang sesat. Tidak masuk akal itu," tandas Gus Nuril.


Tuhan kita sama, Tuhan kita satu, hal itu firman Allah dalam Al Quran Al-Ankabut ayat 46, yang berbunyi (dalam terjemahan bahasa Indonesia) :


'Dan jangan kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka dan katakan: Kami beriman pada (kitab-kitab) yang diturunkan pada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu dan hanya kepada-Nya kami berserah diri'