Beritahati.com, Jakarta - Cukup banyak wanita yang sulit hamil meski telah bertahun-tahun menikah dan rutin melakukan hubungan intim. Salah satu sebabnya ialah karena kondisi dinding rahim yang tipis.


Mengapa dinding rahim yang tipis dapat memengaruhi kesuburan wanita? Untuk menjawabnya, ada baiknya Anda memahami terlebih dulu struktur rahim dan proses normal yang terjadi di dalamnya.


Dinding rahim wanita terdiri dari tiga lapisan. Lapisan terluar disebut perimetrium, lapisan tengah yang mengandung otot disebut miometrium, dan lapisan dalam yaitu endometrium. Lapisan endometrium ini yang akan mengalami perubahan sebagai respons terhadap naik turunnya kadar estrogen sepanjang siklus haid.


Endometrium sendiri terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan basilar, yaitu lapisan yang melekatkan endometrium dengan miometrium, dan lapisan fungsional. Lapisan fungsional yang terdiri dari kelenjar dan pembuluh darah inilah yang dapat menebal dan menipis seiring dengan siklus haid.


Setiap bulannya, rahim menyiapkan diri untuk mengantisipasi terjadinya pembuahan. Mendekati ovulasi, yaitu saat sel telur dilepaskan, hormon estrogen akan meningkat. Rahim akan merespons dengan menebalnya lapisan endometrium.


Endometrium yang tebal dan subur diperlukan agar embrio, yaitu sel telur yang telah dibuahi, bisa berimplantasi ke dalam dinding rahim. Tanpa proses ini, kehamilan tidak dapat berlanjut. Selama kehamilan, endometrium jugalah yang membantu pembentukan plasenta untuk menutrisi janin yang sedang berkembang.


Endometrium yang dianggap normal adalah yang memiliki ketebalan 8-13 mm. Kondisi tersebut memungkinkan untuk terjadinya implantasi dari proses kehamilan yang alami. Sedangkan ketebalan minimal untuk bisa menerima implantasi dari proses kehamilan buatan seperti bayi tabung ialah 6 mm.


Sebagai patokan umum, endometrium yang tebalnya di bawah 7 mm dianggap tipis. Ini berarti, embrio akan kesulitan untuk “menempel” pada endometrium. Jika akhirnya tidak terjadi implantasi, endometrium akan meluruh sebagai darah haid. Jika terjadi implantasi, endometrium yang tipis bisa jadi tidak mampu memberikan nutrisi yang cukup untuk melanjutkan kehamilan. Keguguran pun dapat terjadi.


Kejadian rahim tipis, apa sebabnya?


Sebagian besar kejadian rahim tipis berhubungan dengan rendahnya kadar hormon estrogen, yang bisa disebabkan oleh berbagai kondisi. Hormon estrogen ini juga penting dalam perkembangan dan pelepasan sel telur. Karenanya, adanya rahim tipis bisa menjadi tanda apakah seorang wanita subur atau tidak.


Namun demikian, rahim tipis juga bisa berkaitan dengan berkurangnya aliran darah ke rahim, kerusakan endometrium akibat infeksi atau tindakan pembedahan pada organ kandungan, serta penggunaan obat-obatan dan KB hormonal.


Untuk mengevaluasi kasus rahim tipis, dokter kandungan akan melakukan USG transvaginal untuk melihat ketebalan endometrium. Pemeriksaan darah juga diperlukan untuk mengetahui kadar hormon estrogen. Bila hasilnya rendah, dokter akan memberikan hormon estrogen sembari mengevaluasi secara berkala perkembangan sel telur dan respon endometrium selama terapi berlangsung.


Pada kondisi tertentu, dokter kandungan akan melakukan histeroskopi, yaitu pemeriksaan yang dapat secara langsung melihat kondisi dinding dalam rahim. Bila ditemukan perlengketan atau kondisi abnormal lain yang menyulitkan kehamilan, dapat langsung dilakukan tindakan.


Jumlah kasus rahim tipis sebenarnya tidak banyak. Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa rahim tipis di bawah 7 mm hanya terjadi pada 260 dari 10.724 atau 2,4% pasangan yang sulit hamil. Artinya, kondisi ini hanyalah salah satu penyebab dari berbagai hal lain yang menyulitkan kehamilan.


Kendati demikian, bila Anda termasuk pasangan yang sulit hamil, kemungkinan adanya rahim tipis tetap perlu diidentifikasi. Selain memengaruhi kesuburan wanita dan peluang hamil, rahim tipis juga meningkatkan peluang Anda mengalami keguguran.