Beritahati.com, Jakarta - Indonesia bersama negara-negara di kawasan Asia Tenggara mewaspadai ancaman dijadikannya wilayah tersebut sebagai basis baru ISIS yang sudah hancur di Timur Tengah oleh pasukan koalisi Suriah dan Irak.


Asia Tenggara merupakan santapan lezat sebagai home base baru grup teroris tersebut, dan situasi di beberapa negaranya juga memungkinkan karena banyak dihuni mayoritas muslim maupun muslim sebagai minoritas. Jadi banyak sekali ruang eksploitasi yang bisa digunakan ISIS untuk melancarkan perpecahan seperti yang mereka lakukan sebelumnya di Suriah,Irak, sampai Libya.


Kabid pemberitaan Puskom Kolonel Heru Prayitno mengatakan, hal inilah yang menjadi kekhawatiran Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.


"Asia Tenggara dijadikan home base dari ISIS," katanya di Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (15/2/2018).


Indonesia melihat, pejuang-pejuang ISIS yang kembali dari kekalahan di Suriah dan Irak akan coba berbaur dengan komunitas muslim di Asia Tenggara.


Oleh karena itu, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI) membuat kesepakatan 'Our Eyes Joint Statement' yang mengakui bahwa Asia Tenggara menjadi pusat yang penting bagi perkembangan dan kemajuan ekonomi global.


Disebutkan dalam kesepakatan tersebut, bahwa sangat penting untuk memperhatikan penanganan masalah terorisme, radikalisme, serta kejahatan ekstremis di kawasan Asia Tenggara secara lebih efektif.


"Indonesia akan dorong kerja sama yang lebih kuat terhadap pertukaran informasi yang strategis untuk masalah terorisme, radikalisme dan ekstremisme. Serta membangun kerangka komunikasi yang tepat untuk memfasilitasi pertukaran informasi strategis nantinya," kata Heru dalam rilis hasil kerja sama tersebut.


Ada 6 (enam) negara yang terlibat dalam penandatanganan kerja sama, yakni Indonesia, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand.


Negara-negara ini akan melakukan eksplorasi dan identifikasi parameter dalam menjawab ancaman dan tantangan yang sedang berkembang dari terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang sangat merusak perdamaian, keamanan, stabilitas dan kesejahteraan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.


"Penguatan kerja sama dengan tujuan sesuai joint statement untuk saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai," pungkasnya.