Beritahati.com, Jakarta - Umat Kristen Palestina sedang berbahagia sekaligus memanjatkan rasa syukur atas dibuka kembalinya Gereja Makam Yesus, setelah ditutup selama 3 (tiga) hari akibat protes masyarakat Palestina atas kebijakan pajak Israel.


Seperti dilansir Al-Jazeera, Gereja dibuka kembali untuk umum pada pukul 04.00 dini hari waktu setempat, atau pukul 02.00 GMT.


"Ini adalah sebuah kemenangan. Kami sedang merayakannya sekarang," ujar Adeed Joudeh, seorang muslim Palestina, yang sudah bekerja sebagai pemegang kunci pintu Gereja selama bertahun-tahun.


Menurut Adeed, seluruh masyarakat Palestina meluapkan kegembiraannya atas pembukaan kembali Gereja Makam Yesus.


"Kami semua bahagia karena bisa berdoa di dalam gereja, yang sebelumnya selama tiga hari menggelar doa di luar gereja," ujarnya.



Gereja Makam Yesus berada di Kota Tua Yerusalem, tepatnya Yerusalem Timur, wilayah pendudukan Israel. Gereja ini merupakan tempat paling suci umat Kristen, karena disinilah terukir sejarah, tempat dimana Yesus Kristus disalib, wafat dan dimakamkan.


Gereja Makam Yesus menjadi tempat ziarah jutaan penduduk dunia dari berbagai penjuru negara. Dan bagi masyarakat Palestina, tempat dimana Gereja berdiri juga sangat suci, dimana mereka bisa berkeluh kesah setiap harinya dengan berdoa, memanjatkan keinginan, serta saling berbagi kebahagiaan maupun kesedihan dengan sesamanya.


Namun pada Minggu, 25 Februari 2018, para pemimpin Gereja Katolik Roma, Armenia dan ortodoks Yunani mengumumkan penutupan pintu Gereja sebagai protes atas tindakan diskriminatif Israel terhadap Umat Kristen Palestina.


"Israel dianggap melemahkan keberadaan umat Kristen di Yerusalem," kata seorang pemimpin Gereja.


Menurut catatan Al Jazeera, Gereja Makam Yesus pernah ditutup selama 48 jam pada 1990, sebagai bentuk protes terhadap perluasan pemukiman Yahudi, yang dengan seenaknya menduduki sebuah pelataran tanah di dekat Gereja Makam Yesus.


Adeeb Joudeh, seorang muslim, sekaligus penjaga kunci Gereja, merupakan saksi hidup bagaimana perjuangan umat Kristen bersama bangsa Palestina dalam melawan setiap kedegilan pemerintah Israel di Yerusalem.


Bahkan Adeeb dengan berat hati dalam kesedihan harus berdiri di depan Gereja menginformasikan penutupan sementara kepada bangsanya sendiri yang hendak datang berdoa, beribadah, maupun menangis menumpahkan keluh kesah di depan pintu Gereja tersebut.


Bagi rakyat Palestina, bukan masalah sebuah Agama, akan tetapi harga diri dan bagaimana Israel menginjak-injak hak mereka sebagai sebuah bangsa. Itulah yang menjadi permasalahan selama ini, termasuk insiden penutupan Gereja Makam Yesus sebelumnya.