Beritahati.com, Jakarta - Pesta demokrasi bertajuk 'Pilpres 2019' hanya menghitung waktu. Menariknya, wacana baru pun bermunculan. Setelah poros ketiga, kini muncul wacana poros tengah.


Istilah poros tengah, pertama kali muncul di awal reformasi tahun 1999. Poros itu pula yang akhirnya mampu mengantarkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Presiden RI.


Menanggapi itu, Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Irfan Ahmad Fauzi, mengatakanalam iklim demokrasi, poros tengah tentu saja adalah hal yang wajar adanya.


“Poros tengah menjadi bagian proses penjajakan dan kalkulasi untuk mencari sosok alternatif di Pilpres mendatang,” kata Irfan di Jakarta, Jumat (9/3).


Menurutnya, poros yang dianggap mewakili entitas muslim ini bisa menjadi harapan agar proses demokrasi lebih dinamis. Paling tidak, pertarungan nantinya jangan sampai melawan kotak kosong.


“Ya intinya parpol-parpol ini harus berani tampil dan percaya diri,” imbuhnya.


Menurutnya, demokrasi yang proposional tidak berjalan jika hanya fokus pada calon petahan saja.


Pria yang pernah mengenyam pendidikan di S2 Unpad tersebut pun tak ingin poros tengah semata memanfaatkan potensi besar umat Islam di Indonesia.


“Ya kalau kita melihat lebih kepada sosok yang diusung sebagai capres-cawapres serta visi yang dibawanya,” pungkas Irfan.


Untuk diketahui, banyak pihak meyakini Pilpres 2019 mendatang bakal dimeriahkan dengan tiga poros kekuatan.


Poros pertama tentu saja adalah koalisi pendukung Jokowi. Sedangkan poros kedua adalah kubu Prabowo Subianto yang hingga saat ini belum deklrasi.


Nah, poros ketiga, dimungkinkan datang dari koalisi Partai Demokrat, PKB dan PAN. Sebab, ketiga partai tersebut hingga kini belum menyatakan dukungannya.


Skenario lain, poros ketiga bisa jadi poros tengah dengan kekuatan parpol Islam. Yakni PPP, PKB, PAN dan PKS.


Jika poros ketiga benar-benar terjadi, kemungkinan ada tiga capres yang akan diusung. Yakni Agus Harumurti Yudhoyono (AHY), (Zulkifli Hasan) dan Cak Imin (Muhaimin Iskandar).


Sayangnya, berbagai lembaga survei independen mencatat, elektabilitas ketiganya masih sangat jauh dibanding Prabowo dan Jokowi yang selalu berada di urutan paling atas.