Beritahati.com, Jakarta - Beberapa waktu lalu publik sempat dihebohkan oleh kemunculan komunitas nudis di Indonesia. Mereka bertekad ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa anggota komunitas nudis dan sesama naturis adalah manusia seperti orang lain.


Disisi lain, orang yang tinggal di negara timur selalu mengganggap bahwa telanjang adalah satu hal tabu. Hal ini dikaitkan dengan aksi porno atau pelecehan seksual.


Bicara soal telanjang atau menampakan seluruh bagian tubuh hingga bagian alat vital memunculkan banyak makna, maksud, persepsi hingga adiksi.


Nudis, ekshibisionis, seni dan pornografi, ada kaitanya dengan keterlanjangan. Lantas, apa yang bedanya? Psikolog Klinis, Arrundina Puspita Dewi, M.Psi, Psikolog, mencoba mengupas satu-persatu agar memberi pemahaman lebih rinci terkait hal yang berhubungan dengan keterlanjangan.


Nudis


Nudism adalah sebuah pola hidup yang dilakukan suatu kelompok untuk hidup telanjang di tempat mana pun mereka berada, baik rumah atau tempat umum. Bagi mereka ini adalah cara menghormati diri dan menyatu dengan alam.


Makanya, pola hidup ini disebut juga dengan naturism. Namun yang pasti, keinginan untuk hidup telanjang bagi kaum ini tidak ada kaitannya dengan seksualitas. "Secara psikologis paham ini tidak ada di pedoman klasifikasi gangguan jiwa," jelas Dina.


Ekshibisionis


"Ekshibisionis, voyeurism, fetishism, dan lainnya merupakan gangguan perilaku seksual dimana si individu tidak mampu mengontrol dorongan seksual yang ada pada dirinya (dorongan untuk berfantasi seksual, merangsang dirinya secara seksual, dan lain-lain) yang dilakukan secara intense terus menerus," papar Dina.


Ia menjelaskan, hal yang membedakan dengan nudis adalah yang bersangkutan merasa terpuaskan kebutuhan seksualnya dengan memamerkan aurat atau alat kelaminnya kepada orang lain (biasanya dilakukan kepada orang yang dianggapnya lebih lemah).


Sedangkan, voyeurism ialah yang bersangkutan merasa terpuaskan kebutuhan seksualnya dengan mengintip orang lain yang sedang beraktivitas seksual atau mengintip orang mandi.


Dan, etishism yaitu orang yang bersangkutan merasa terpuaskan kebutuhan seksualnya melalui objek/benda yang membuatnya menjadi terangsang secara seksual dan biasanya digunakan untuk masturbasi.


Seni


Seni adalah sebuah karya yang dibuat dengan cara yang jujur sehingga nilainya menjadi sesuatu yang berharga tinggi. Karya seni sangatlah luas cakupannya. Termasuk seni yang menggambar keterlanjangan, entah lukis atau pahat.


Menurut Dina, karya seni yang mengandung unsur keterlanjangan, tergantung bagaimana persepsi orang yang melihat. "Balik ke persepsi masing-masing individu. Kalau untuk memuaskan sexual desire atau sexual needs-nya, sudah pasti jatuhnya jadi pornografi. Tapi kalau bisa mengesampingkan sisi terangsang secara seksual dan lebih didominasi estetikanya, mungkin bisa dikatakan mutlak karta seni," jelasnya.


Pornografi


Unsur keterlanjangan yang terkandung dalam pornografi dapat menimbulkan adiksi sehingga menjadi sebuah kebutuhan. Jadi kebutuhan seksual orang yang mengakses pornografi baru bisa terpenuhi setelah dia mengakses konten pornografi. Hal itu diakibatkan oleh pleasure system yang ada di otak baru bisa aktif setelah dia mengakses konten-konten seperti itu.


"Makanya jadi adiksi karen kalau enggak begitu ya enggak terpuaskan. Akhirnya mencari terus, jadi tidak lagi bisa mengontrol dorongan seksual dan perilakunya melihat konten pornografi. Dalam kasus ekstrem bahkan berhubungan seksual secara aktual pun tidak lagi dirasa memuaskan karena merasa lebih terpuaskan dengan mengakses pornografi," terang Dina.