Beritahati.com, Jakarta - Istilah pelakor (perebut laki orang) semakin populer setelah video Ovie alias Bu Dendy melabrak sahabatnya (Nylla) karena mengganggu pernikahan dengan suaminya. Video itu pun viral di media sosial.


Sebelumnya, netizen juga kerap melontarkan sebutan Pelakor kepada sejumlah selebritis dan kini orang awam pun ikut-ikutan, baik meniru atau mencap pelakor.


Dari contoh kasus di atas, terlihat begitu mudahnya orang mencap pelakor yang notabenenya menyudutkan posisi kaum perempuan.


Terkait itu, peneliti bidang kajian gender Sabilla Tri Ananda menyatakan melabeli perempuan dengan sebutan Pelakor (perebut lelaki orang) termasuk bentuk kekerasan verbal dan misogini.


Misogini adalah rasa benci atau tidak suka terhadap perempuan atau anak perempuan. "Istilah pelakor itu bias, jadi seakan-akan lelaki yang diambil oleh orang lain adalah pasif, padahal selingkuh dapat terjadi karena dua belah pihak," kata Sabilla saat dihubungi di Jakarta, Jumat (9/3).


Sabilla mengatakan perempuan kerap disalahkan dalam sebuah perselingkuhan, jika istri berselingkuh, maka perempuan akan disalahkan, dan jika suami berselingkuh maka orang ketiga yaitu perempuan juga akan disalahkan.


Mirisnya perundungan dengan menyebut perempuan orang ketiga dalam suatu hubungan sebagai "pelakor" yang marak di media sosial kerap dilakukan oleh perempuan juga.


Bahkan perundungan tersebut juga sampai ke dunia nyata, misalnya kasus pengiriman karangan bunga yang isinya hujatan yang dialamatkan ke kantor perempuan orang ketiga tersebut.


Menurut dia, hal tersebut dapat terjadi karena perempuan yang selama ini "terjajah" dalam budaya patriarki ternyata ikut melanggengkan nilai patriarki tersebut dengan menilai, mengopresi dan menindas perempuan lain.


"Salah satu praktik yang mereka lakukan adalah dengan merundung perempuan yang dianggap sebagai perebut suami orang," kata peneliti lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia tersebut.