Beritahati.com, Jakarta - Luar biasa, sepak terjang tiga hacker muda asal Surabaya ini dalam dunia peretasan. Sangat mencengangkan, mereka yang menamakan diri komunitas 'Surabaya Black Hat' itu mampu membobol 3.000 situs yang tersebar di 42 negara.


Akibat ulahnya, ketiga remaja yakni KPS (21), NAP, dan ATP (21), ditangkap Tim Satuan Tugas Cyber Crime Polda Metro Jaya pada Minggu (11/3) kemarin.


Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Adi Deriyan, mengatakan, kelompok hacker tersebut menamakan dirinya sebagai Surabaya Black Hat (SBH) dan berpusat di Surabaya.


Adi menjelaskan, terbongkarnya aksi para anak muda ini, setelah pihaknya bekerja sama dengan agen penegakan hukum luar negeri melalui IC3 (Internet Crimes Complaint Centre). Informasi pengungkapan juga di awali adanya laporan dari pihak intelijen luar negeri.


Adi menambahkan, para pelaku menbobol sistem keamanan situs internet sejumlah instansi. Bahkan, ada satu instansi milik Pemerintah Kota Lost Angeles, Amerika Serikat yang diretas.


Berdasarkan hasil penyelidikan pula, Polisi mengerucut kepada enam pelaku utama. Tiga orang tertangkap, tiga lainnya dalam pengejaran petugas.


"Saat ini baru tiga orang yang kami amankan dan mereka keberadaannya di Surabaya,” ujar Adi.


Adapun modus ketiga pelaku, ungkap Adi, mereka mengirimkan email kepada calon korban-korbannya. Para pelaku berpura-pura memperbaiki email korban yang sebelumnya telah dikuasai oleh pelaku.


Sebagai imbalan, mereka mengharuskan korbannya untuk menyetorkan sejumlah uang melalui akun paypall atau bitcom.


“Jika korban tidak melakukan pembayaran, maka kelompok ini akan menghancurkan system (email) korban,” jelas Adi di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (13/3).


Dalam penyelidikan, kata Adi, ketiga tersangka ini sudah meretas lebih dari 3.000 sistem di seluruh negara, termasuk di Amerika Serikat dan Indonesia


“Total sudah ada 42 negara yang diretas,” ungkap Adi.


Dari pengakuan tersangka, pendapatan yang mereka raup dari hasil kejahatan siber selama 2017 pun cukup besar.


“Berkisar antara Rp 50 juta sampai Rp 200 juta,” terang Adi.


Akibat perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 29 ayat(2)jo pasal 45B, Pasal 30 jo Pasal 46, Pasal 32 jo Pasal 48 Undang-undang RI No 19 tentang perubahan UU RI No 11 tahun 2018 tentang informasi transaksi elektronik. Kelompok hacker ini dincaman pidana maksimal 10 tahun penjara.