Beritahati.com, Hampir seluruh civitas akademika kampus Muhammadiyah menyadari bahwa masalah pelarangan penggunaan cadar merupakan hal sensitif, selain syar’i dan budaya, bercadar erat kaitannya dengan hak azasi.


Menurut Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dr. Sofyan Anif memastikan bahwa pihaknya tidak memberlakukan ketentuan khusus tentang cadar, meski untuk foto Ijazah sesuai ketentuan, tetap harus menampakkan full face sebagai identitas, karena Ijazah akan dipergunakan untuk kepentingan mahasiswa sendiri.


Namun untuk aktivitas di kampus, pihaknya tetap menyerahkan pada masing-masing pribadi, karena tanpa larangan mahasiswa di kampusnya telah memahami, pihak kampus juga memahami jika hal ini sebagai keyakinan, mahasiswi bercadar tidak akan mendapat teguran.


Pada kesempatan lain, Rektor Universitas Sebelas Maret UNS Solo, Prof. Dr. Ravik Karsidi MS mengakui, Fakultas Pertanian UNS pernah menerapkan larangan bercadar bagi mahasiswinya.


Diakui, permasalahan larangan dalam Surat Edaran tentang Tata Tertib Berpakaian tersebut hingga saat ini belum selesai, namun pihaknya telah melakukan koordinasi secara persuasif dengan para pimpinan Fakultas, dan dosen setempat.


"Kami secara persuasif, apakah itu harus seperti itu sudah melalui pihak-pihak seperti dosen pembimbing dan sebagainya, tapi kita menghormati kalau itu keyakinan tidak kita larang, waktu itu istilahnya tidak diberlakukan sampai ada ketentuan atau edaran berikutnya dari Rektor," jawabnya kepada beberapa wartawan yang menanyakan terkait larangan sejumlah Perguruan Tinggi bagi mahasiswinya menggunakan cadar saat di kampus, melalui sambungan telepon, di Solo, Rabu (13/3).


Dekan Fakultas Pertanian UNS pada tahun 2017 lalu, sempat mengeluarkan Surat Edaran yang menyebutkan mahasiswi diwajibkan menampakkan seluruh wajah saat berkomunikasi dengan warga kampus, hingga menimbulkan polemik.