Beritahati.com, Jakarta - Selain untuk berkomunikasi, berekpresi untuk kepentingan apapun, media sosial ternyata bisa berpengaruh buruk bagi manusia.


Jejaring sosial Facebook, bahkan, sempat mengaku dalam sebuah tulisan yang diunggah di webnya bahwa media sosial bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental.


Orang-orang yang mendapat dampak negatif dari media sosial biasanya adalah pengguna-pengguna pasif. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut, Facebook menyarankan para pengguna pasif untuk memperbanyak jumlah interaksi di jejaring sosial tersebut.


Departemen Pendidikan Inggris juga menemukan bahwa kesehatan mental remaja perempuan semakin menurun, dengan media sosial sebagai salah satu penyebabnya.


Hal ini diperparah dengan tingkat kepuasan publik yang rendah terhadap pelayanan kesehatan mental di negara tersebut. Semakin hari, semakin banyak orang meninggalkan praktisi kesehatan mental mereka karena merasa tidak mendapat dukungan yang dibutuhkan.


Waktu menunggu konseling yang lama dan praktisi-praktisi kesehatan mental yang terlalu bergantung kepada obat-obatan juga merupakan alasan lain semakin banyak orang berhenti pergi ke klinik untuk mengatasi masalah kesehatan mental mereka.


Akibatnya, sebut suatu studi, orang-orang ini berpaling kepada media sosial untuk menceritakan keluh kesah dan mencari dukungan yang tidak mereka dapat dari praktisi kesehatan mental.


"Semakin banyak orang berpaling ke platform-platform (media sosial) ini untuk meminta bantuan," tulis pemimpin studi dan Asisten Riset dari Manchester Metropolitas Televisy Kim Heyes di The Conversation, pekan lalu.



Sisi burut Curhat di Media Sosial
Menceritakan keluh kesal diri, di media sosial juga dapat memicu berbagai reaksi yang tidak diharapkan, menurut Heyes. Orang yang 'curhat' tersebut bisa dinilai sebagai suka mengeluh dan terlalu banyak membagikan detail-detail kehidupan di media sosial.


Seorang partisipan di penelitian Heyes bahkan mendapat respon negatif setelah ia bercerita tentang kondisi mentalnya di media sosial. "Facebook bukanlah tempat untuk hal-hal seperti ini," tulis teman partisipan tersebut.


Cerita-cerita bernada sedih juga dapat mengundang Cyber Bullying, membuat orang yang mengunggahnya merasa semakin terisolasi. Selain itu, mengunggah informasi ke media sosial mengenai kegiatan keseharian dan informasi personal telah dikaitkan dengan penurunan kesempatan kerja di masa mendatang.


"Merupakan hal yang realistis untuk membayangkan bahwa atasan-atasan kita di saat ini dan di masa mendatang bisa melihat riwayat kesehatan mental kita jika kita mengunggahnya," ujar Heyes.