Beritahati.com, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, hadir sebagai saksi fakta sidang PTUN tentang pencabutan badan hukum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) UI oleh Kementerian Hukum dan HAM, Selasa (13/3/2018).


ILUNI UI dengan nomor Badan Hukum SK 21 Juli 2016, dinyatakan pembubarannya oleh pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Dirjen AHU Nomor AHU-31.AH.01.08.Tahun 2017, pada 15 Agustus 2017.


Fahri Hamzah menjelaskan bahwa dirinya mengikuti kegiatan ILUNI UI, dimana kegiatannya sangat positif dan bersifat keilmuan. Kegiatannya tidak ada makar terhadap NKRI. ILUNI UI yang dibubarkan ini diklaim Fahri konsisten dengan cita-cita NKRI dan UUD 1945 serta Pancasila.


Fahri Hamzah juga memberikan keterangan apa yang dilihat, didengar, dirasakan, saat menjadi calon Ketua ILUNI yang kemudian mengundurkan diri pada 2016 silam.


Menurut Fahri, pemilihan ILUNI 2016 lalu tidak fair karena ada pemaksaan sistem pemilihan, tak mengikuti aturan yang berlaku serta jauh dari tatanan profesional. Kepemimpinan sebelumnya dianggap melanggar masa jabatan, tapi tidak ada peringatan dari Rektorat. Sehingga pihak rektorat dianggap kurang memberikan perhatian sejak awal pemilihan.


“Metodologinya pemaksaan sistem yaitu elektronik vote, namun dari awal sistemnya kacau, kandidat tertentu diuntungkan karena pemilihnya mayoritas dari fakultas tertentu dan panita pemilunya juga diragukan independensinya,” kata Fahri Hamzah saat ditanya kenapa mengundurkan diri sebagai kandidat Ketua ILUNI 2016-2019 oleh hakim.


Alumni UI adalah mereka yang pernah lulus dari Universitas Indoneia. Alumni tersebut kemudian dapat mendirikan organisasi sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Jumlah mereka banyak, sehingga tidak mungkin dipaksa untuk menjadi satu wadah. Apalagi sebelumnya, Kemenkumham sempat memberikan SK pendirian organisasi tersebut.


Rektor harusnya berterimakasih kepada ILUNI UI Badan Hukum, karena Rektorat yang sebelumnya kurang perhatian dengan alumninya. Setelah kegiatan aktif ILUNI UI Badan Hukum (BH) yang sekarang berjalan, barulah pihak rektorat memberikan perhatian.


Selain Fahri Hamzah, saksi fakta berikutnya adalah Herry Hernawan, anggota tim sinkronisasi yang menjelaskan pemaksaan metodologi saat pemilihan Ketua ILUNI 2016.