Beritahati.com, Jakarta - Sekitar 640 ton ekstasi tidak bisa masuk Indonesia dan sedang berada di Timor Lesta. Informasi ini berdasarkan temuan Badan Narkotika Nasional (BNN), dan menjadi bahan perhatian serius anggota Komisi III DPR RI, Arteria Dahlan, dalam rapat kerja dengan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian beserta jajarannya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).


"Bapak punya Kasat Narkoba sampai Kabupaten/Kota, punya Bhabinkamtibmas yang tahu masalah narkoba, harusnya pencapaiannya bisa lebih dari penangkapan 600 ribu butir pil ekstasi," ungkap Arteria.


Politisi PDI-P ini mengklaim, apa yang diungkapkannya hanya untuk memacu, atau men-trigger jajaran Polri bahwa pencapaian selama ini bisa lebih ditingkatkan lagi. Bahkan, kata Arteria, sekarang ini, narkoba jenis sabu sudah menjadi industri rumahan di wilayah Jabodetabek.


"Bahkan satu rumah bisa produksi 100 gram sabu. Bayangkan jika setiap rumah memproduksi 100 gram saja, dari jutaan rumah pastinya besar. Jadi pencapaian selama ini kami nilai masih kecil, dan mohon kerja lebih keras lagi ke depannya," ujarnya.


Sebelumnya, Kapolri menyampaikan di hadapan Komisi III DPR RI, bahwa Pada 8 November 2017, berhasil menggulung jaringan pengedar narkoba di Bekasi, dan menyita 600 ribu butir ekstasi. Lalu berhasil pula disita ganja sebanyak 1,3 ton di Slipi, Jakarta Barat. Kemudian, baru-baru ini, pada 20 Februari 2018, polisi berhasil menangkap kapal pembawa 1,6 ton sabu di perairan Anambas, Riau.


Setidaknya ini membuktikan bahwa Indonesia memang sedang menghadapi darurat narkoba, sehingga butuh kerjasama dan sinergi antara kepolisian, BNN, serta berbagai pihak terkait lainnya, untuk lebih keras lagi mencari setiap celah peredaran narkoba di Indonesia. Namun semua usaha akan menjadi sia-sia, jika Kemenkumham tidak bisa menindaklanjuti bahwa masih banyak kejadian peredaran narkoba dikendalikan dari dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas) oleh narapidana kasus narkoba yang berada di sana.