Beritahati.com, Jakarta - Orang tua pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk sang Buah Hati, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Produk perawatan bayi dan perlengkapan bayi seperti pakaian dan sepatu sebisa mungkin dipilih dengan baik. Tidak terkecuali untuk popok bayi yang bersentuhan langsung dengan kulit si kecil.


popok bayi sekali pakai vs popok kain - alodokter


Memilih popok bayi yang baik bisa saja menjadi persoalan yang rumit untuk orang tua. Popok bayi kini tidak hanya terbuat dari kain, tetapi ada juga popok sekali pakai yang dapat langsung dibuang. Orang tua mungkin bingung apakah lebih baik memilih popok kain yang harus dicuci tiap kali kotor, namun aman bagi kulit bayi, atau popok bayi sekali pakai yang meski praktis, tetapi bisa saja menyebabkan ruam.


Popok Kain
Kelebihan


Popok kain kini tersedia dalam berbagai pilihan desain dan warna yang menarik. Bahkan kini sudah ada popok bayi dari kain yang menggunakan perekat atau kancing. Bentuk dan ukurannya pun bermacam-macam agar dapat disesuaikan dengan tubuh si Kecil. Popok kain juga bisa dikatakan lebih murah dan lebih hemat daripada popok bayi sekali pakai karena dapat dicuci dan dipakai lagi. Popok kain juga dapat disimpan dan digunakan kembali untuk anak kedua Anda. Pengeluaran untuk membeli popok bagi anak kedua pun menjadi berkurang.


Popok kain dianggap lebih aman untuk kulit bayi karena bebas dari bahan kimia. Selain itu banyak orang tua mungkin memilih menggunakan popok bayi dari bahan kain karena peduli dengan lingkungan. Menggunakan popok kain berarti Anda mengurangi sampah yang dibuang.


Kekurangan


Popok bayi ini tidak luput dari kekurangan lainnya, seperti mudah bocor, harus sering diganti, dan tidak sepenuhnya praktis untuk dibawa ke mana-mana. Selain itu, popok kain butuh banyak waktu untuk proses pencucian dan pengeringannya. Bunda perlu menyempatkan untuk mencuci dan mengeringkan popok kain sebelum dapat dikenakan kembali oleh si Kecil.


Yang perlu diperhatikan


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika Anda menggunakan popok bayi dari kain:


Bila menggunakan peniti untuk memasang popok, pilih peniti berukuran besar dengan kepala yang terbuat dari plastik. Hati-hati saat memasangnya agar tidak melukai bayi.
Popok kain yang basah terkena urine bayi bisa langsung ditaruh di keranjang pakaian kotor, tapi popok kain yang kotor karena feses harus dibersihkan terlebih dahulu. Anda bisa menyemprotkan popok dengan campuran air dan soda kue untuk mengendalikan bau.
Ketika mencuci popok kain, pisahkan dengan pakaian lain dan gunakan detergen lembut khusus untuk bayi. Detergen ini lebih aman digunakan oleh bayi yang memiliki kulit sensitif dan tidak menimbulkan reaksi alergi. Gunakan air panas dan bilas minimal dua kali. Jangan gunakan pelembut pakaian yang dapat menimbulkan ruam pada bayi dengan kulit sensitif.
Selalu mencuci tangan setelah mengganti popok bayi untuk mencegah penyebaran kuman.
Popok Sekali Pakai
Kelebihan


Popok bayi sekali pakai menjadi pilihan banyak orang tua karena dirasa lebih praktis dan mudah untuk digunakan. Popok ini juga mengandung gel peresap cairan yang sanggup menahan cairan lebih banyak sehingga tidak perlu sering diganti dan tidak mudah bocor. Gel peresap juga membuat kulit bayi tetap kering dan tidak basah sehingga anak Anda tetap merasa nyaman. Beberapa popok sekali pakai juga dibuat dengan bahan yang memungkinkan adanya aliran udara ke kulit anak.


Kekurangan


Dibutuhkan dana yang lebih besar ketika menggunakan popok bayi sekali pakai daripada popok kain. Popok sekali pakai harus dibuang setelah kotor dan tidak bisa dipakai kembali atau disimpan untuk digunakan adiknya nanti. Popok bayi sekali pakai mengandung bahan kimia, seperti polypropylene, untuk lapisan dalam yang menyentuh kulit anak. Selain itu, popok sekali pakai juga menggunakan bahan untuk kertas serta polimer penyerap super, yang dapat menyerap urine dalam jumlah banyak, Bahan tersebut dianggap aman selama dalam takaran kecil. Beberapa jenis popok sekali pakai juga mengandung pewarna dan pewangi tambahan, kadang bahan tambahan ini dapat menyebabkan alergi pada bayi.