Beritahati.com, Jakarta - Berbicara mengenai siapa yang memperkenalkan Kesenian Cerita Pantun, sulit untuk ditelusuri. Diperkirakan pada abad ke-6, kesenian ini sudah hidup dan berkembang di tanah Pasundan (Provinsi Jawa Barat dan Banten). Sebab secara historis, kata “Pantun” pertama kali tertulis dalam sebuah naskah Sunda Kuno berjudul Sang Hyang Siksa Kanda Ng Karesian yang ditulis pada 1518 Masehi. Dalam naskah tersebut, tertulis adanya Cerita Pantun yang berbunyi :


“Hayang nyaho di pantun dan juru pantu ma: Langgarang, banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi; Prepantun tanya”


Artinya:


“Bila ingin mengetahui tentang Cerita Pantun Seperti Langgarang, Banyakcatra, Siliwangi, dan Haturwangi, silakan bertanya kepada tukang pantun”


Selain itu apa pendapat yang dikemukakan oleh FS. Eringa (1994) cerita pantun adalah kisah legenda yang mengandung unsur kesejarahan yang kebanyakan berisi berbagai rangkaian peristiwa atau petualangan para bangsawan dalam perebutan kekayaan dan wanita. Pada akhirnya, apabila menemukan kesulitan yang luar biasa, selalu meminta pertolongan daya supranatural.


Sebelum Kesenian Cerita Pantun dimulai, terlebih dulu diadakan ritual dengan membakar kemenyan, penyajian sesajen dan mengucapkan mantra. Ada dua tujuan penggunaan mantra (rajah) pada Cerita Pantun, yang pertama yaitu untuk meminta maaf kepada tokoh-tokoh cerita yang dilakonkan. Dan yang kedua adalah berisi permohonan maaf kepada penonton apabila terdapat kesamaan dengan cerita yang dibawakan.


Mantra dinyanyikan dengan iringan kecapi dalam suasana magis. Jenis sesajian bergantung pada keadaan setiap Juru Pantun dan kebutuhan penyelenggara. Sesajen bisa berupa ayam bakar, tujuh jenis kue, tujuh jenis rujakan, tujuh jenis minuman, tujuh macam bunga, dan dupa lengkap dengan kemenyan.


Juru pantun adalah orang yang biasa membawakan Cerita Pantun, biasanya seorang laki-laki. Sementara itu, Cerita Pantun adalah prosa yang disajikan dengan cara dinyanyikan dengan iringan musik kecapi. Cerita pantun pada umumnya mengisahkan perjalanan para Ksatria Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi dan keturunannya.


Dalam pertunjukan Seni Pantun Majalengka, senantiasa menggunakan struktur sebagai berikut :


Rajah Pamunah
Mangkat Cerita
Nataan Kerajaan dan para tokoh cerita
Rajah pamungkas atau rajah panutup


Kesenian Cerita Pantun Betawi ini sangat mementingkan isi cerita sehingga dilantunkan sampai ceritanya tamat. Pertunjukan Cerita Pantun biasanya diadakan untuk memperingati hari besar nasional, pernikahan, khitanan, kelahiran, kematian, memenuhi nadzar, upacara menyimpan padi ke lumbung, dan upacara ruwatan.


Penyelenggaraan pertunjukan biasanya diadakan semalam suntuk dari pukul 21.00 sampai pukul 05.00 dini hari. Kecuali untuk acara khitanan, pertunjukan Cerita Pantun diadakan pada pagi hari.


Cerita Pantun merupakan kesenian yang mengandung unsur sastra dan karawitan, oleh karena itu Seni Pantun disebut juga teater tutur.


(Dari berbagai sumber)