Beritahati.com, Jakarta - Persoalan keterlibatan anak dalam kontestasi politik masih sangat jarang disuarakan. Hal ini belum menjadi isu yang massal dan perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Ini menjadi penting, karena anak adalah masa depan bagi semua orang. Apabila salah dalam mengarahkannya sejak kecil, otomatis masa depannya akan salah arah juga.

Demikian dikatakan Ketua Komisi II DPR RI Zainudin Amali dalam acara diskusi Forum Legislasi yang membahas ‘Peraturan KPU Soal Larangan Pelibatan Penyalahgunaan Anak-anak Saat Kampanye’ di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/4/2018), seperti dilansir laman resmi DPR RI.

“Saat debat-debat Pilkada, isu tema tentang anak harus menjadi perdebatan. Sehingga sejak awal, dalam benak seorang Calon Kandidat sudah terekam bahwa ia harus memiliki konsep perhatian terhadap anak-anak,” ujar Zainudin.

Menurutnya, Komisi II DPR RI akan mendorong hal teknis dan praktis seperti itu, dan penyelenggara pun pasti tidak akan merasa keberatan.

“Komisi II DPR akan terus mendukung perlindungan terhadap anak. Semua fasilitas yang menunjang terhadap perlindungan anak harus kita siapkan, dan kekurangan aturannya akan kita sempurnakan,” imbuhnya menambahkan.

DPR sebagai pembuat Undang-Undang akan terbuka dalam menerima masukan-masukan itu, sambung politisi Partai Golkar tersebut.

“Komisi II saat ini sedang membahas tentang PKPU khusus untuk Pemilu, sebagai turunan dari UU Nomor 7 Tahun 2017. Belum terlambat bagi KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) untuk mendorong isu ini menjadi bagian dari atensi kita,” tegas Zainudin.

Dirinya juga merasa prihatin melihat eksploitasi anak yang terjadi pada saat kampanye atau saat-saat lainnya, dan tetap menjadi bagian dari kontestasi. Zainudin mengatakan, pihak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) selama ini hanya bisa mengingatkan karena tidak ada sanksi tegas yang melandasi bahwa tidak boleh mengeksploitasi anak-anak dalam kampanye politik.

Apalagi kalau muncul alasan klasik, yaitu para orang tua tidak bisa meninggalkan anaknya sendirian di rumah ketika mereka mengikuti kampanye.

“Alasan klasik itulah yang menjadi pembenaran bagi para orang tua membawa anak ke lokasi kampanye. Kita berharap kepada para penyelenggara pemilu agar mempunyai perhatian terhadap isu ini. Oleh karenanya, saya mengusulkan agar di dalam setiap penyelenggaraan kampanye, ada tempat untuk menitipkan anak. Dan panitia penyelenggara kampanye bertanggungjawab atas hal tersebut,” tandasnya. (DPR RI)