Beritahati.com, Jakarta - Salah satu orang kepercayaan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, adalah seorang perwira polisi bernama Dalimin lebih lengkapnya Dalimin Ronoatmojo kelahiran Kebumen, 15 Maret 1919. Beliau bertugas sejak 1950, sampai menjelang sang proklamator meninggal dunia. Kejujuran dan kesetiaannya teruji bahkan sebelum bertugas sebagai ajudan.


Kariernya sebagai anggota Brimob dimulai tahun 1948 melalui perekrutan di Sukabumi, sebagai polisi Belanda. Dia kemudian ditempatkan di Batavia (Jakarta). Pada masa penjajahan Jepang, Dalimin sering bertugas mengawasi petani yang membawa beras di Stasiun Kereta Api Gambir dan Jatinegara.


Dia kemudian masuk pasukan Molbrig (kini Brimob) dan ikut berjuang melawan Belanda serta menumpas pemberontakan PKI Muso di Madiun tahun 1948. Berkat rekam jejak dan loyalitasnya, tahun 1950 Dalimin diangkat sebagai pengawal pribadi Presiden Soekarno dengan pangkat Inspektur Polisi Tingkat Satu.


Di masa revolusi, beliau pernah menyita sejumlah perhiasan emas dan permata, yang dimasukkan ke dalam beberapa kemasan kaleng untuk diselundupkan ke Belanda. Kalau saja beliau bersedia menerima uang sogok, maka lolos lah barang-barang itu ke luar negeri.


Selain tugas keseharian sebagai ajudan, pak Dalimin dikenal akrab dengan anak-anak Bung Karno, terutama dari ibu Fatmawati. Kalau mas Guntur sakit dan tidak mau minum obat, pawangnya adalah pak Dalimin. Itu sebabnya, beliau lah pengawal Bung KArno yang paling bebas keluar masuk semua ruangan di dalam rumah Putra Sang Fajar, termasuk kamar pribadi.




Hanya pak Dalimin seorang, yang sering diberi tugas memegang tongkat komando Bung Besar, Penyambung Lidah Rakyat itu, saat beliau istirahat, shalat atau berpidato. Padahal Bung Karno memiliki ajudan dari 4 angkatan yaitu Angkatan Darat, Laut, Udara dan kepolisian. ‘Kalau dicabut, isi tongkat itu hanya seperti sebatang lidi, tapi berbahan logam,’ papar pak Dalimin.


Pak Dalimin adalah contoh teladan dalam hal kebersihan. Bung Karno sering berkunjung dan menyaksikan kebersihan kamar tidurnya yang tertata rapi. Maka beliau pun mengumpulkan semua petugas di kediamannya dan memerintahkan semuanya menjaga kebersihan kamar seperti pak Dalimin.


Pada waktu Bung Karno sudah tidak lagi menjadi presiden dan dirawat di rumah sakit, pak Dalimin pernah datang ke rumah dan disambut oleh salah seorang putra sang mantan presiden, mas Guntur Soekarnoputra. Ketika ingin berangkat ke rumah sakit, pak Dalimin diingatkan oleh mas Guntur untuk mengurungkan niatnya. Alasannya, khawatir pak Dalimin ditangkap, bahkan dihabisi petugas yang tidak suka. Dengan patuh, peringatan itu diikuti. Pak Dalimin kembali ke kampungnya di Desa Ori, Kecamatan Kuwarasan, Kebumen, Jawa Tengah. Kerinduan itu tidak pernah terpenuhi sampai Bung Karno meninggal dunia.


Tugas pak Dalimin yang paling unik adalah menjadi juru cicip makanan yang akan dikonsumsi oleh Bung Karno. Akibat tugas ini, beliau sering diledek kawan-kawannya sebagai orang yang tidak sopan dan tidak punya etika. Sebagai pencicip, beliau selalu makan lebih dulu dibanding bossnya, Bung Karno. Tujuannya bukan untuk mengetes rasa enak atau tidak enak dari makanan yang dihidangkan, tetapi untuk memastikan bahwa makanan itu tidak beracun, yang bisa membuat sang presiden terbunuh.