Beritahati.com, Jakarta - Wakil Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafisz Tohir menilai, Bank Indonesia (BI) harus hati-hati dalam melakukan intervensi saat rupiah sedang melemah. Karena, jika keliru intervensi, pastinya akan terus melemah, dan pelemahan itu pastinya akan berdampak pada sektor lainnya.


Oleh karena itu, Hafisz kemudian merincikan dampak melemahnya rupiah pada berbagai sektor, seperti dilanswir laman resmi DPR RI, Rabu (25/4/2018) :


Sektor pertama yang terdampak adalah aliran modal asing yang keluar bisa semakin tinggi. Saat ini saja, sudah lebih dari Rp 8,6 triliun (year to date/ytd) sejak awal 2018. Ini merupakan akibat langsung yield treasury atau surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun yang meningkat ke 2,9 persen, dan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Otomatis yield spread dari Surat Berharga Negara (SBN) akan menyempit. Investor akhirnya mencatat penjualan bersih dengan memburu surat utang AS.


Daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor melemah, karena beberapa sektor industri nasional bergantung pada impor bahan baku dan barang modal.


“Apabila dolarnya kuat, maka biaya produksi pasti naik sehingga mengakibatkan harga barang jadi lebih mahal. Sementara konsumsi domestik masih stagnan, maka pengaruh terhadap profit pengusaha yang semakin rendah,” jelasnya.


Dampak lainnya adalah, beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah dan korporasi akan semakin besar. Risiko gagal bayar akan naik, apalagi jika ada utang swasta yang belum dilindung nilai (hedging).


Terakhir, Indonesia sebagai net importir minyak mentah juga sangat sensitif terhadap pergerakan dolar mengingat impor minyak nasional cukup besar. Tercatat impor minyak Indonesia 500 ribu barel/hari.


“Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan, baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus berjalan. Buktinya, Indonesian Crude Price 48 dolar AS/barel. Sementara saat ini, brent sudah dijual 71 dolar AS,” ungkap Hafisz.


Nilai tukar rupiah juga saling terkait dengan indikator makro lainnya, seperti Produk Domestik Bruto (PDB), harga minyak mentah dunia, investasi, serta inflasi. Menurutnya, ini penting diketahui karena menyangkut prasyarat dasar untuk meningkatkan daya saing ekonomi suatu negara. (DPR RI)