Beritahati.com, Jakarta - Langkah politik Gatot Nurmantyo (GN) tampak jelas sekali terlihat saat ini. Statement Gatot mengenai Politisasi Masjid (ceramah politik diperkenankan di Masjid), sangat jelas memperlihatkan siapa mantan Panglima TNI itu sebenarnya.


GN bahkan mengungkapkan, orang yang mewacanakan larangan berbicara politik di Masjid, tidak tahu tentang agama. Menurut dia, jika pun bukan orang yang tidak tahu agama kemungkinan justru orang yang sok tahu tentang agama.


"Satu, kalau dia umat muslim ia tidak tahu tentang agama. Kedua, kalau bukan umat muslim dia sok tahu tentang agama Islam," ujar GN di Masjid UGM, Jumat (4/5/2018).



Pernyataan GN tersebut jelas bertolak belakang dengan apa yang pernah dia sampaikan saat masih menjabat sebagai Panglima TNI.


Waktu itu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi salah satu pembicara dalam acara Maulid Nabi SAW yang diselenggaran oleh ormas Majelis Rasulullah di Taman Nasional Monumen Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat, 1 Desember 2017 silam.


Dalam ceramah singkatnya tersebut, GN sempat menyindir ulama yang suka berbicara kasar. Menurut dia, ulama yang demikian bukanlah ulama yang mengikuti Muhammad SAW.


"Kalau ada ulama yang suka bicara dengan kasar, maka itu bukan ulama yang mencontoh Rasulullah," kata Gatot


Menanggapi pernyataan GN soal Politisasi Masjid, Ketua Umum (Ketum) Federasi Indonesia Bersatu (FIBER), Tirtayasa menyatakan, bahwa kini jelas dan terang benderang siapa Gatot Nurmantyo sebenarnya.


Menurut Tirtayasa, saat semua elemen bangsa coba meluruskan apa yang terjadi akibat kusruh SARA ketika Pilkada DKI Jakarta 2017 dan perbuatan eks Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan paham khilafah versi mereka, yang telah memecah belah umat, GN yang mengaku sangat berjiwa NKRI, akhirnya datang untuk merusak apa yang coba diperbaiki.


"Sekarang terlihat jelas bagaimana wataknya. Demi ambisi pribadi, dia mau bersikap plin-plan dan mengadu domba masyarakat dengan ceramahnya tersebut. Hal itu dilakukan GN hanya demi mendapatkan simpati dari golongan dan partai tertentu," ujar Tirtayasa saat dihubungi Beritahati, Minggu (6/5/2018).


Sikap bersebrangan GN dengan pemerintah, bahkan TNI-Polri soal Politisasi Masjid, jelas memperlihatkan keinginan kuatnya untuk mendapatkan simpati dari orang lain maupun partai politik untuk menjadi Calon Presiden (Capres).


Lebih jauh, Tirtayasa yang juga seorang aktivis dari Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia 98 (JARI 98) mengatakan, bahwa pernyataan GN di Masjid UGM merupakan komoditas 'jualan' agar terlihat oleh kelompok-kelompok yang memang berseberangan dengan pemerintah soal Kebhinnekaan, Toleransi, dan Pancasila.


"Saat Gerindra terlihat menolak secara halus pencalonan GN, maka terlihat dia mulai mencari simpati ke kelompok lainnya," imbuh Tirta.


Sikap Gatot dinilai FIBER sebagai tingkah laku seseorang yang belum matang secara politik. Bahkan mengerikan jika negara diatur oleh orang seperti GN, yang tidak bisa dipegang komitmen maupun ucapannya.


"Bagaimana bisa Indonesia nanti dipimpin seorang yang bersikap 'mencla mencle," tegas Tirtayasa.


Terakhir, kata dia, latar belakang GN yang seorang TNI juga menjadi sorotan.


"Siapapun dia, selama masih seorang TNI, kami jelas menolak. Kami mempunyai sejarah kelam dengan TNI. Dan kami sepakat menolak Capres dan Cawapres berlatar belakang TNI, semuanya, berikut Capres dan Cawapres yang ada embel-embel berbau Orde Baru juga di belakangnya," tandasnya.


Sebelumnya, seperti dilansir republika, mantan panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menanggapi isu larangan bicara politik di masjid. Ia meyakini, pemerintah tidak akan mengeluarkan larangan seperti itu.


"Itu kan isu, belum larangan kok. Tidak mungkin pemerintah melarang itu, tak mungkin," kata Gatot setelah menghadiri dialog kebangsaan di Masjid Kampus UGM, Jum'at (4/5).


Ia merasa isu larangan itu sekadar tanggapan-tanggapan yang berkembang. Walau tidak jarang disalahartikan, Gatot menekankan bahwa politik sebenarnya memiliki tujuan mulia.


Gatot mengingatkan, hancurnya suatu negara justru akan terjadi saat ulama-ulama tidak membimbing umatnya. Selain itu, Alquran tidak pernah dibaca dan masjid tidak ramai didatangi lagi. "Itu hancur bangsa ini," ujar Gatot.


Di luar itu, ia mengapresiasi jika ada wacana bergabungnya partai-partai politik. Menurut Gatot, alangkah indah jika tempatnya umat itu semua memiliki kesadaran untuk bersatu.


Gatot mengaku bersedia saja jika ada yang memintanya menjadi pemersatu partai-partai politik yang ada. Ditanya langkahnya untuk maju pada pilpres 2019, ia hanya memberikan candaan santai.


"Wong kendaraan saja ora duwe," kata Gatot.


Sedangkan arrahmahnews menulis, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, tidak setuju dengan larangan masjid digunakan untuk kegiatan politik. Larangan tersebut justru merupakan alat menghancurkan bangsa Indonesia.


“Yang menyatakan pelarangan itu pasti umat Islam yang baru belajar Islam atau umat non Islam sok tahu,” kata Gatot di Masjid Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Jumat, 4 Mei 2018.