Beritahati.com, Jakarta - Hari ini, 20 tahun yang lalu, peristiwa reformasi 1998, membelalakkan mata dunia dan negara tetangga, bahwa penguasa yang sudah tidak disukai rakyat pastinya akan jatuh juga, sekuat apapun dia. Soeharto, penguasa diktator Indonesia selama 32 tahun, akhirnya tumbang dan bertekuk lutut di hadapan rakyatnya sendiri, yang dipelopori para mahasiswa dan aktivis.


Namun begitu, bukan perkara mudah menjatuhkan sang rezim diktator, karena korban jatuh bergelimpangan selama proses menuju 'hari penghakiman'. Mahasiswa terbunuh ditembus peluru aparat, warga terbakar hidup-hidup di dalam gedung, pembela diktator dihakimi massa, wanita diperkosa para begundal, dan belasan aktivis hilang tanpa bekas dan tak ditemukan hingga kini.



Sebuah sajak perjuangan lahir dari seorang pejuang di jalanan yang tak ditemukan hingga kini. Hari ini, 20 tahun yang lalu...


SAJAK SUARA


sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku


suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pemberontakan!


sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang merayakan hartamu
ia ingin bicara
mengapa kaukokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?


sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ia yang mengajari aku untuk bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan


(Wiji Thukul)


Air mata
Darah
Tangisan
Kebahagiaan
Kesedihan
Teriakan bebas merdeka
Serak parau
Kemarahan
Rasa sakit
Kemenangan
Sujud syukur
Beban terlepas
Lahir kembali
Luka
Harapan
Doa
Kemenangan


Suara lirih bergetar "dengan ini saya menyatakan mundur ....."
Mengiringi ditancapkannya tonggak sejarah demokrasi ...


Selamat memperingati Reformasi
Sahabatku
Teman segaris
Para pejuang
Para aktivis
Elemen masyarakat


Selamat memperingati 20 tahun Reformasi bagi Bangsaku


"Jangan pernah lelah menjaga marwah reformasi, karena perjuangan ini tidak pernah berakhir " - Tirtayasa -