Beritahati.com, Jakarta - Jumlah pendapatan atau gaji seseorang dikatakan berpengaruh terhadap kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, dan penyakit mental lainnya.


Pada tahun 1970an di Kanada, pemerintah memilih sebuah kota secara acak. Dipilihlah Dauphin, Manitoba, sebuah kota kecil di padang rumput, untuk eksperimen yang belum pernah dilakukan sebelumnya.


Sebagian besar warga diberitahu sesuatu yang mengejutkan: mereka diberi “hadiah” yang nilainya pada masa sekarang sekitar 16 ribu dolar Kanada (sekitar Rp172 juta). Warga tidak diminta apa pun sebagai timbal balik dan tidak ada syarat dan ketentuan yang dapat membuat hadiah tersebut ditarik kembali. Mereka hanya diberitahu bahwa mereka adalah warga negara dan negara ingin warganya memiliki kehidupan yang baik.


Dr. Evelyn Forget dari Universitas Manitoba secara detail mencatat hasil penelitian yang berlangsung selama tiga tahun tersebut. Banyak hal penting terjadi selama eksperimen berlangsung. Jumlah bayi lahir dengan berat badan rendah menurun, karena sang ibu mendapatkan nutrisi yang lebih baik. Keinginan orang untuk belajar menjadi meningkat. Selain itu, hampir tidak ada yang menyerah dalam bekerja, meski ada beberapa orang yang menolak pekerjaan yang dianggap tidak bermutu dan mencari pekerjaan yang lebih baik.


Singkatnya, standar kerja secara keseluruhan di kota tersebut meningkat. Hasil yang paling penting adalah rawat inap akibat gangguan mental menurun sebanyak 8,5 persen. Dibandingkan dengan dekade terakhir, dimana tingkat depresi global justru melonjak hingga 18 persen.


Hasil penelitian tersebut ditemukan cocok dengan pernyataan dari Badan Kesehatan Dunia yang kurang lebih berbunyi: “Kesehatan mental terjadi secara sosial. Ada atau tidaknya kesehatan mental berada di atas semua indikator sosial, dan ini membutuhkan solusi skala sosial maupun individu.”


Realitanya, depresi dan kecemasan timbul karena berbagai faktor. Beberapa terjadi karena faktor biologis, tapi yang banyak terjadi adalah karena faktor sosial dan psikologis.


Kepada Vice, Dr. Evelyn mengatakan bahwa ia mewawancara banyak orang yang termasuk dalam program pendapatan yang terjamin tersebut. Ia melihat bahwa pendapatan bekerja seperti antidepresan.


Menurut survei yang dilakukan oleh American Psychological Association, uang dikatakan sebagai penyebab utama munculnya stres. 72 persen dari 3000 partisipan menjawab bahwa mereka merasa stres karena memikirkan hal tersebut. Lebih detail lagi, 22 persen lainnya mengalami stres berat karena perkara finansial, dan 26 persen merasa stres karena uang, hampir setiap waktu.


Para partisipan juga mengungkapkan bahwa uang bisa bikin stres lantaran adanya pengeluaran tak terduga, pembayaran penting, serta tabungan pensiun. Saat seseorang merasa kesulitan memenuhi kebutuhan hariannya, tak heran jika adanya pengeluaran tak terduga dapat memicu stres, yang jika tidak diatasi dapat memicu depresi.


Jadi, jika kondisi keuangan dapat memicu depresi, menurunkan penyebabnya (yaitu dengan uang yang lebih banyak) dapat mengurangi tingkat depresi.


Masih di Kanada, ada lagi eksperimen hampir mirip yang dimulai tahun lalu. Sebanyak 4000 orang dari kota Hamilton, Lindsay, dan Thunder Bay diberikan pendapatan dasar yang terjamin. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi kesenjangan di provinsi tersebut. Apakah nanti akan ada hasil penelitian yang terkait dengan depresi, kita tunggu saja setelah tiga tahun program berakhir.


 


Sumber : vice