Beritahati.com, Jakarta - Crystal Hodges memiliki tanda lahir besar (port wine stain) pada wajahnya dan ia mengatakan bahwa tanda lahirnya tersebut merupakan bom waktu yang dapat menyebabkan terjadinya stroke atau bahkan kerusakan otak kapan saja. Oleh karena itu, ejekan dan bisikan orang-orang yang melihatnya merupakan kekhawatiran terakhir di dalam hidupnya.


Walaupun sering mendapatkan respon negatif dari orang-orang yang melihatnya, Crystal tidak pernah berkeinginan untuk menyembunyikan tanda lahirnya tersebut. Ia tidak pernah merasa rendah diri karena tanda lahir di wajahnya tersebut. Ibunya mengatakan bahwa bukan dirinya yang bermasalah tetapi orang lain yang mengejeknya tersebut yang justru bermasalah.


Asisten guru tersebut mengatakan bahwa ada banyak orang bertanya padanya apakah ia menderita kanker kulit. Selain itu, banyak orang juga menyebutnya "Two-Face" seperti musuh batman yang setengah wajahnya hancur karena cairan asam.


Akan tetapi, tanda lahir Crystal sebenarnya merupakan gejala dari sindrom Sturge-Weber yang amat sangat langka. Sindrom Sturge-Weber merupakan suatu kelainan yang mengenai kulit, otak, dan mata. Tanda lahir (port wine stain) ini sendiri sebenarnya terbentuk akibat perkembangan abnormal dari pembuluh-pembuluh darah pada kulit.


Tanda lahir ini dapat terbentuk pada bagian tubuh manapun, tetapi pada sindrom Sturge-Weber, ia biasanya mengenai kulit di sekitar dahi dan atau kulit kepala.


Selain pembuluh darah kulit, port wine stain ini juga akan menyebabkan terbentuknya pembuluh darah tambahan pada permukaan otak (angioma). Pembuluh darah tambahan ini dapat menyebabkan terjadinya kejang dan gangguan perkembangan. Selain itu, pembuluh darah tambahan ini juga dapat menyebabkan terjadinya glaukoma dan gangguan kesehatan mental.


Dengan kata lain, untuk tanda lahir Crystal Hodges tersebut, berhubungan dengan otaknya, yang berarti dapat berakibat fatal. Dokternya mengatakan bahwa saat ia menderita migrain dan glaukoma, bisa mengakibatkan kebutaan.


Sekarang ini, wanita yang berasal dari California, Amerika Serikat, tersebut melakukan terapi laser rutin pada tanda lahirnya setiap 2 bulan sekali. Terapi ini diperlukan untuk mencegah tanda lahirnya tersebut "menyebar" lebih jauh ke dalam otaknya, yang telah terbukti dapat mematikan.


Selain itu, ia juga melakukan pemeriksaan rutin pada seorang dokter spesialis saraf untuk memantau dan mencegah terjadinya berbagai gejala lain dari sindrom Sturge-Weber yang dideritanya tersebut.


Sebelumnya, saat masih berusia 11 tahun, ia pernah memutuskan untuk berhenti melakukan terapi laser ini karena ia mengira terapi laser yang menyakitkan itu hanya dilakukan untuk tujuan kosmetika.


Akan tetapi, saat ia berusia 20 tahun, ia menemukan bahwa terapi laser tersebut memiliki manfaat lain yang jauh lebih penting. Ia menemukan bahwa bila ia tidak melakukan terapi laser tersebut, tanda lahirnya akan semakin menyebar ke dalam otak dan menyebabkan dirinya mengalami kejang dan epilepsi. Sejumlah orang bahkan mengalami kerusakan otak hingga mereka tidak dapat lagi berjalan atau berbicara.


Saat itulah ia memutuskan untuk kembali melakukan terapi laser.


Sekarang, ia menderita glaukoma dan mengalami pembesaran jaringan lunak pada bibir bagian atasnya. Akan tetapi, ia tidak ingin menyerah begitu saja, ia tidak ingin selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan. Sekarang dirinya sedang mempelajari bahasa isyarat di perguruan tinggi setempat dan berharap suatu hari nanti menjadi seorang penerjemah.


Sumber: mirror