Beritahati.com, Yogyakarta - Bersamaan dengan operasi pencarian satu korban laka laut yang terjadi pada Minggu, 1 Juli 2018, Tim SAR Gabungan juga harus bekerja keras melakukan pengawalan terhadap ritual Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, yang digelar oleh masyarakat Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Selasa (3/7/2018).


Ritual yang sudah menjadi tradisi ratusan tahun bagi warga di pesisir Pantai Parangtritis ini juga menjadi hiburan tersendiri bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke salah satu pantai selatan Yogyakarta ini.


Tak kurang dari seribu warga Pantai Parangtritis turut meramainkan tradisi yang tujuannya untuk memohon keselamatan dan dijauhkan dari segala bencana ini.


Ritual Pisungsung Jaladri dimulai dengan doa bersama di Joglo Parangtritis. Di tengah-tengah joglo, tertata rapi berbagai sesaji yang terdiri dari buah-buahan, nasi tumpeng, dan kain bahkan terdapat patung Dewi Sri yang merupakan lambang kesuburan.


Dalam doanya, mereka memohon keselamatan dan dijauhkan dari segala bencana. Warga juga mengucapkan syukur atas segala rezeki yang telah diberikan Allah SWT, baik berupa hasil bumi maupun hasil laut.



Setelah itu sesaji dan umborampe diarak menuju Cepuri Parangkusumo dengan berjalan kaki menyusuri sepanjang pantai Parangtritis sejauh dua kilometer. Arak-arakan diawali delapan penunggang kuda dan diikuti jodhang utama berupa sesaji sangga buwana.


Arak-arakan semakin meriah dengan penampilan kesenian tradisional reog yang menari sepanjang arak-arakan berlangsung.


Di Cepuri Parangkusumo, kembali dilakukan doa bersama yang dipimpin juru kunci Cepuri. Usai berdoa, sesaji diarak ke Laut Selatan untuk dilarung. Ribuan warga yang sudah menunggu sejak pagi, antusias berebut sesaji yang dilarung.


Mereka percaya sesaji itu akan membawa rezeki dan menjauhkan dari segala bahaya.


Upacara pisungsung jaladri ini meski labuhan ini ditujukan untuk penguasa laut selatan namun secara religi warga tetap menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.


“Labuhan ini persembahan untuk penguasa laut selatan tapi kita secara vertikal tetap kepada Allah SWT. Tradisi dan agama tidak bisa dicampur aduk,” ungkap Ketua Panitia, Mas Penewu Suraji Parang Pertomo, Selasa 3 Juli 2018.


Rina salah satu wisatawan mengatakan pisungsung jaladri tahun ini lebih meriah dan rute yang digunakan bibir pantai menjadi obyek yang menari untuk difoto bahkan melakukan swafoto.


"Sudah sering menyaksikan pisusung jaladri dan kali ini sangat meriah dan menarik untuk ditonton wisatawan," katanya.


Warga Kota Yogyakarta inipun sepakat jika tradisi ratusan tahun masyarakat pesisir ini terus dijaga dan dilestarikan. Apalagi pantai Parangtritis merupakan obyek wisata pantai dengan pungunjung terbanyak.


"Tradisi ini juga menunjukkan masyarakat di Pantai Parangtritis selalu terjaga keguyubannya," tuturnya.