Beritahati.com, Jakarta - Nanti malam, pukul 00.00 WIB, perang itu harus dimulai. Sudah tidak ada lagi langkah mundur. Tidak sempat lagi negosiasi.

Perang dagang Amerika-Tiongkok ini harus dimulai. Amerika Serikat (AS) mengenakan tarif masuk 25 persen untuk sejumlah barang Tiongkok yang diekspor ke sana, terutama baja dan alumunium, yang nilainya tertaksir mencakup USD 200 miliar.

Tiongkok membalas. Akan mengenakan hal yang sama, nilai yang sama. Hanya barangnya yang beda, yakni hasil pertanian dan kebun buah.

Mula-mula hanya sebatas ancam-mengancam, gertak-menggertak. Lalu dicoba negosiasi. Tiongkok kirim delegasi tingkat tinggi ke Washington DC sebanyak dua kali. Kemudian AS juga mengirim delegasi tingkat tinggi ke Tiongkok sebanyak dua kali. 

Hasilnya? Seperti Inggris lawan Colombia: 2-2. Hanya saja, dalam kasus ini, tidak ada perpanjangan waktu dan tidak ada adu penalti.

Belum ada pemenang. Justru kian buruk. Begitu Tiongkok membalas, Presiden Trump naik darah. Seperti merasa dilawan anak kecil yang nakal. Trump mengancam menaikkan lagi tarif itu. Tambah 10 persen lagi, jadi 35 persen.

Tapi Tiongkok juga tidak takut. Hanya beberapa jam kemudian, sudah memutuskan, memberi balasan yang setara. Kali ini meluas ke barang seperti pesawat terbang. Boeing-nya AS khawatir tidak dibeli Tiongkok lagi.

Di belahan lain, Presiden Prancis ke Beijing. Prancis punya Airbus, yang setara Boeing milik AS. Kanselir Jerman ke Tiongkok. Presiden India dan Rusia juga menemui Xi Jinping, Presiden Tiongkok.  Mereka bersekutu, melawan Trump.

Akan tetapi, waktu manuver habis. Tanggal 6 Juli sudah tiba, yakni dimulainya  tarif baru, nanti malam.

Sama-sama menetapkan mulai perang tanggal 6 Juli, tapi ada persoalan teknis. Jam di Tiongkok lebih cepat 12 jam. Tanggal 6 Juli di Beijing masih tanggal 5 Juli di Washington. Itu artinya, Tiongkok akan memulainya lebih dulu.

Padahal niatnya hanya akan membalas. Ini sensitif, bisa dinilai Tiongkok yang memulai perang ini. 

Padahal Tiongkok selalu mengatakan, ''Tidak akan pernah menembak lebih dulu. Hanya kalau ada yang memulai barulah balas menembak.''

Mari lihat akhirnya seperti apa. Toh tinggal menunggu beberapa jam lagi.
Siapa yang akan menang? Begitu sulit menjawabnya. Tiongkok bukan Jepang, yang di masa lalu langsung menyerah saat diancam seperti ini. Jepang lantas  membangun pabrik-pabrik mobil di Amerika.

Tiongkok tidak mau menyerah. Entah sampai kapan.

Namun begitu, mirisnya, langkah Trump bukan hanya menyusahkan Tiongkok. Para sahabat Trump sendiri ikut kena imbasnya. Mengapa demikian? Karena barang-barang dari Tiongkok itu tidak semuanya milik Tiongkok.

Taiwan memiliki banyak pabrik di Tiongkok yang hasilnya diekspor ke Amerika. Sampai saat ini, ada 50.000 perusahaan Taiwan beroperasi di daratan.

Jepang juga demikian, akan ikut terpukul, sama dengan Korea Selatan. Semua itu sahabat karib Amerika sendiri.

Seorang analis memprediksi perang dagang ini akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok satu persen. 

Sementara itu, di dalam negerinya sendiri, Trump kian dilawan pengusaha besar, yang biasanya selalu di belakang Presiden dari Partai Republik.

Yang paling keras melawan Trump adalah General Motor dan Harley Davidson. Dua pabrik itu harus beli baja lebih mahal akibat kebijakan Trump.

Para petani kedelai juga marah karena harga kedelai turun. Trump marah pada pengusaha itu, yang tidak mau menderita sedikit di awal perang ini.

Menurut Trump, derita itu tidak akan lama. Perang ini, kata dia, tidak akan lama. Amerika Serikat akan dengan mudah memenangkannya.

Tapi Trump juga tidak akan lama di puncak kekuasaannya.


(Sumber : Catatan harian Dahlan Iskan, 6 Juli 2018, melalui disway.id)