Beritahati.com, Jakarta - Gunung Agung kembali mengalami erupsi beberapa waktu lalu. Informasi terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan bahwa tinggi kolom abu akibat letusan mencapai 2.000 meter di atas puncak Gunung Agung, atau mencapai kurang lbih 5.142 meter di atas permukaan laut. Tak hanya mengancam lingkungan sekitar, letusan Gunung Agung yang menyemburkan abu vulkanik juga harus diwaspadai karena dapat menimbulkan beberapa penyakit.


Data satelit Himawari dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan abu vulkanik telah menutupi ruang udara koordinat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Saat ini Gunung Agung berada pada status level 3 (siaga) dengan rekomendasi masyarakat di sekitar dan pendaki/pengunjung/wisatawan tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak melakukan aktivitas apa pun di Zona Perkiraan Bahaya, yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari kawah puncak gunung. Masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Agung diimbau melakukan evakuasi mandiri.


“Sebanyak 309 jiwa masyarakat mengungsi berada di 3 titik pengungsi yaitu Dusun Tegeh Desa Amerta Bhuana, Banjar Dinas Galih Desa Jungutan dan Banjar Desa Untalan Desa Jungutan, Kabupaten Karangasem,” ujar Kepala Data Pusat Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam sebuah rilis.


Lebih lanjut, Sutopo mengimbau agar masyarakat tetap tenang. Sampai sekarang, BNPB terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan, PVMBG, BMKG, BPBD, Pemda Bali, dan lainnya.


Selain tenang, masyarakat juga harus waspada karena kondisi alam seperti ini dapat menyebabkan sejumlah penyakit. Secara umum, sebagian besar masalah kesehatan yang dialami oleh pengungsi erupsi gunung berapi hampir sama dengan pengungsi bencana lain pada umumnya. Kendati demikian, ada beberapa hal yang memerlukan perhatian khusus.


“Masalah kesehatan yang sering ditemukan pada pengungsi mencakup cedera tidak disengaja, penyakit infeksi, hipotermia atau penurunan suhu tubuh di bawah suhu normal, luka bakar, penyakit saluran cerna, penyakit jantung, serta komplikasi terkait kehamilan dan persalinan,” ungkap dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc.


Menurut dr. Nitish, anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami infeksi saluran pernapasan dan saluran cerna. Ini disebabkan oleh perubahan kondisi tempat tinggal yang membuat mereka lebih sulit menjaga kebersihan, kontak yang lebih dekat dengan banyak orang di tempat tinggal yang sama, serta belum mengetahui akses kesehatan terdekat di daerah yang baru. Cedera atau luka yang timbul secara tidak disengaja juga cukup sering ditemukan. Ini dapat terjadi akibat terjatuh saat sedang dalam perjalanan menuju pengungsian.


“Bencana alam tersebut juga mampu memberikan dampak secara langsung. Asap dari gunung meletus misalnya, dapat menyebabkan keluhan saluran pernapasan, gangguan kulit, dan sejenisnya,” dr. Nitish menambahkan.


Sumber : Klik Dokter